Ancha shop Online77 - Mulyorejo | Tokopedia: Belanja online aman dan nyaman dari Ancha shop Online77 - Kepuasan konsumen menjadi keutamaan kami
JANGAN ADA YANG BELI DI TOKO INI
PENIPUAN
MEMINTA EMAIL DAN PASSWORD PRIBADI
Sunday, January 8, 2017
Monday, September 28, 2015
5 Larangan Agama Bagi Wanita (Jilid-1)
Bismillahirrahmanirrahim;
Seperti kita ketahui agama Islam mengatur berbagai pola kehidupan dan penghidupan semua insan. Pola-pola kehidupan dan penghidupan itu meliputi perintah (amar) serta larangan (nahi). Banyak perintah dalam Islam baik ditujukan kepada semua umat muslim maupun secara khusus kepada para muslimah. Namun larangan agama bagi para wanita khususnya muslimah telah banyak diulas oleh banyak para ulama dalam karya tulisnya yang mengklasifikasikan berbagai macam larangan agama yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah, hal ini dikarenakan dalam kehidupan dan penghidupannya wanita memiliki kebebasan beraktivitas yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kaum pria.
Banyak para ulama yang menyebutkan larangan-larangan agama secara global dengan menyebutkan ahlak-ahlak yang harus dijauhi dan ahlak terpuji yang wajib kita terapkan dalam kehidupan kita terutama bagi wanita. Hanya saja mereka mengumpulkannya dari yang benar-benar teruji kebenarannya dalam As-Sunnah.
Didasarkan atas dasar hal tersebut, maka saya mencoba mengungkapkan sebagian kecil larangan-larangan agama yang bertalian erat dengan masalah wanita kedalam 30 larangan agama bagi wanita. Mudah-mudahan dengan kita mengetahui sebagian kecil larangan tersebut, kita termasuk wanita muslimah yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Larangan Ke-1 . Menyambung Rambut
Nabi Muhammad SAW telah melarang para wanita untuk menyambung rambutnya , seperti yang diriwayatkan oleh Asma r.a. berkata : "Seorang wanita datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk bertanya : "Ya Rasulullah, aku mempunyai anak perempuan yang akan kawin. Ia ditimpa penyakit campak sehingga rambutnya rontok. Apakah aku boleh menyambung rambutnya ?" Rasulullah menjawab, " Allah melaknat orang yang menyambung rambutnya.
Larangan Ke-2, Bertato, Mencabut Bulu Wajah dan Pangur Gigi.
Bertato, mencabut bulu wajah dan pangur gigi merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Pelakunya mendapat laknat, sebab didalamnya ada perubahan terhadap ciptaan Allah SWT. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a. berkata "Rasulullah SAW melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung (disanggul), juga melaknat wanita yang bertato dan yang minta ditato." Selanjutnya Abdullah bin Mas'ud r.a berkata, "Allah ta'ala melaknat wanita-wanita yang bertato dan yang minta ditato, dan melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu wajah dan yang minta dicabut bulunya, serta melaknat wanita-wanita yang mepangur giginya agar kelihatan indah dan menarik, yang merubah-rubah ciptaan Allah SWT. Selanjutnya Abu Jihaifah r.a berkata, "Rasulullah SAW melarang harga darah (menjualnya), harga anjing, uang upah pelacur, dan melaknat wanita yang bertato dan minta ditato, yang makan riba dan yang memberinya, juga melaknat orang-orang yang menggambar." H.R Bukhari
Namun disini perlu dijelaskan bahwa larangan mencabut bulu di wajah itu adalah tidak lain hanya pada jambang dan pada ujung wajah, sedangkan pangur gigi demi penyembuhan atau karena ada gejala sakit pada gigi dan semacamnya dibolehkan dan tidak diharamkan.
Larangan Ke-3. Keluar Rumah dengan Memakai Parfum.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Rasullullah bersabada : "Wanita siapa saja yang memakai dupa (kayu gaharu), maka jangan sholat terakhir bersama kami." H. R Muslim. Selanjutnya Abu Musa Al-Asy'ariy r.a berkata bahwa Rasulullah bersabda ; Wanita ssiapa saja yang memakai wangi-wangian (parfum) lalu ia lewat didepan suatu kaum (gerombolan orang) kemudian mereka mencium baunya, maka ia adalah pezina (Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dari Jalan Ghunain bin Qois dari Abi Musa).
Wahai saudariku muslimah, hadist diatas sudah jelas memberikan petunjuk kepada kita semua tentang haramnya wanita yang keluar dengan rumah dengan memakai parfum, sebab wanita pemakai parfum yang lewat didepan kaum lelaki akan merangsang garirah dan daya tarik tersendiri bagi mereka. Oleh karenanya Al'Allamah Al Mubar kaafuriy rahimahullah memberikan komentar tentang hadist diatas tersebut, bahwa wanita tersebut adalah pezina dan siapa yang memandang wanita tersebut, maka mata nya telah berzina. Oleh karena sudah merupakan kewajiban bagi setiap muslimah untuk keluar rumah, kecuali ada keperluan yang bersifat syar'i (yang dibenarkan oleh agama) dan memakai jilbab dengan tidak memakai wangi-wangian.
Larangan ke-4. Memperlihatkan Perhiasan (Bersolek ) didepan lelaki lain.
Dalam surat Al-Ahzab ayat 33 Allah ta'ala berfirman : "Dan janganlah kalian (wanita muslimah) bersolek seperti bersoleknya orang-orang pada zaman jahiliyah pertama. Yang dimaksud bersoleknya wanita kaum jahiliyah adalah wanita keluar berjalan didepan lelaki dan bergaya lenggak-lenggok. Selanjutnya Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ; " Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang mempunyai cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukul (mencambuk) wanita yang memamerkan atau menampakkan auratnya (tubuhnya), yang melenggak lenggok jalannya, kepalanya bagaikan punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya itu sendiri tercium dari jarak perjalanan ini dan itu.". (H.R. Muslim).
Disini saya ingin menekankan bagi para muslimah janganlah berbangga dengan penampilan indah dan menarik didepan laki-laki selagi masih hidup di dunia. Perbuatan ini meskipun enak sekejap, namun merupakan kerugian dan penyesalan dihari kiamat nanti, yang berakibat tidak masuk surga dan mendapatkan siksa api neraka.
Larangan ke-5. Menolak ajakan suami untuk tidur bersama.
Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Jika seseorang mengajak isterinya untuk tidur bersama (bersetubuh), lalu si wanita menolaknya, sementara suaminya bermalam dalam kondisi marah, maka si wanita tersebut dilaknat oleh para malaikat sampai pagi." Dari hadist ini menunjukkan hak-hak suami atas seorang isteri. Diantara hak-hak tersebut adalah hak hubungan seksual (menyetubuhi), dan isteri tidak boleh melalaikan hak-hak tersebut. Dengan kata lain ia tidak boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan badan. Kalau tidak ia akan mendapatkan laknat dari para malaikat. Sedangkan yang dimaksud laknat disini adalah berupa doa malaikat agar ia dijauhkan dari rahmat Allah SWT.
http://kartinihadi.blogspot.co.id/2009/12/5-larangan-agama-bagi-wanita-jilid-1.html?m=1
Tuesday, September 1, 2015
HUKUM UMRAH
BERULANG-ULANG KETIKA BERADA DI MEKKAH
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum keluar dari Mekkah ke selain tanah suci untuk
melaksanakan umrah pada bulan Ramadhan dan di waktu lainnya (misalnya pada
waktu ibadah haji, -peny) ?
Jawaban
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah menyebutkan, bahwa ulama salaf sepakat tentang makruhnya
mengulang-ulang umrah dan memperbanyaknya. Baik pendapat ini diterima atau
tidak diterima, maka keluarnya seseorang dari daerahnya untuk umrah, lalu
keluarnya dari Mekkah ke selain tanah haram (Tan’im dan tempat miqat lain)
untuk melaksanakan umrah kedua, ketiga pada bulan Ramadhan dan di waktu yang
lainnya, adalah termasuk perbuatan bid’ah yang tidak dikenal pada masa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebab pada masa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam hanya dikenal satu masalah yaitu masalah khusus bagi Aisyah
Radhiyallahu ‘anha ketika ihram haji tamattu’ lalu haidh. Ketika Nabi
Shallallahu menemuinya, maka didapatkannya dia menangis dan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam menanyakan sebab dia menangis, lalu Aisyah memberitahukannya
kepada Nabi bahwa dia haid. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan
kepadanya bahwa haidh adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepada
anak-anak perempuan Bani Adam.
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam memerintahkan kepadanya untuk ihram haji. Maka Aisyah ihram haji dan
menjadi haji qiran. Tetapi ketika Aisyah selesai melaksanakan haji, dia
mendesak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dizinkan umrah sendiri. Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya dan memerintahkan
saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar, semoga Allah meridhoi keduanya, agar
menyertainya ke Tan’im. Maka Abdurrahman keluar bersama Aisyah ke Tan’im dan
Aisyah Umrah.
Seandainya hal ini termasuk sesuatu
yang disyariatkan dalam bentuk kemutlakan, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengarahkan para shahabat, bahkan akan menganjurkan Abdurrahman bin Abu
Bakar yang keluar bersama saudarinya untuk melaksanakan umrah karena akan
mendapatkan pahala. Dan telah maklum dari semua itu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mukim di Mekkah pada tahun pembebasan kota Mekkah
selama sembilan belas hari, tapi beliau tidak melaksanakan umrah padahal
demikian itu mudah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ini menunjukkan bahwa orang yang
umrah pada bulan Ramadhan atau di waktu yang lainnya maka dia tidak
mengulang-ulang umrah dengan keluar dari Mekkah ke tempat yang bukan tanah suci
(miqat). Sebab demikian ini tidak sesuai sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan juga tidak sesuai dengan sunnah Khulafa’ur Rasyidin bahkan tidak
semua shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian juga banyak di antara
menusia yang mengatakan bahwa kedatangannya untuk umrah pada bulan Ramadhan
adalah diperuntukkan ibunya atau kedua orang tuanya, atau yang seperti itu.
Maka kami mengatakan, bahwa menghadiahkan ibadah kepada orang-orang yang
meninggal tidak disyariatkan dalam Islam. Artinya, seseorang tidak dituntut
untuk mengerjakan ibadah untuk ibu atau bapak atau saudara perempuannya. Tapi
jika melakukan hal tersebut diperbolehkan. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengizinkan kepada Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu menyedekahkan
kebun kurmanya untuk ibunya yang telah meninggal. Dan ketika seseorang minta
izin kepada Nabi seraya berkata : “Wahai Rasulullah, ibu saya meninggal
mendadak dan saya kira kalau dia sempat berbicara niscaya dia akan bersedekah.
Apakah saya boleh bersedekah untuk dia?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Ya”. Meskipun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
bersabda kepada para shahabatnya secara umum : “Bersedekahlah kalian untuk
orang-orang yang meninggal atau untuk bapak-bapak kalian atau untuk ibu-ibu
kalian!”.
Karena itu bagi para pencari ilmu
dan yang lainnya wajib mengetahui perbedaan antara sesuatu yang disyari’atkan
(masyru’) dan sesuatu yang diperbolehkan (jaiz). Di mana sesuatu yang
disyariatkan itu berarti bahwa setiap Muslim dituntut melakukannya. Sedangkan
sesuatu yang diperbolehkan adalah sesuatu yang setiap muslim tidak dituntut
untuk melakukannya. Untuk lebih jelasnya saya akan mengemukakan contoh kisah
seseorang yang diutus Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ekspedisi di
mana dia menjadi imam shahabat-shahabatnya. Setiap dia shalat dengan mereka
selalu mengakhiri bacaanya dengan qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas). Maka
ketika kembali mereka memberitahukan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tanyakanlah kepadanya, mengapa dia selalu melakukan hal itu?” Ketika ditanya,
ia menjawab : “Sesungguhnya dalam surat al-Ikhlas terdapat sifat Yang
Mahapengasih, dan saya senang (mencintai) membacanya”. Maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata : “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah mencintai
dia!”.
Meski demikian, di antara sunnah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak mengakhiri bacaan dalam shalatnya dengan surat al-Ikhlas dan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengarahkan umatnya kepada hal tersebut.
Disitulah terlihat perbedaan antara sesuatu yang diizinkan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan yang disyariatkan yang setiap manusia dituntut
melakukannya. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Sa’ad bin
Ubadah menyedekahkan kebunnya untuk ibunya yang telah meninggal dan mengizinkan
penannya yang ibunya meninggal mendadak bersedekah untuk ibunya, maka demikian
itu tidak berarti disyariatkan untuk setiap manusia bersedekah untuk bapak atau
ibunya yang meninggal, meskipun jika dia bersedekah akan berguna bagi orang
yang disedekahinya. Sesungguhnya kita diperintahkan untuk mendo’akan bapak dan
ibu kita yang telah meninggal berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ
إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُولَهُ
“Jika anak Adam meninggal, maka
terputuslah amalnya kecuali tiga : shodaqoh jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak
shalih yang mendo’akannya” [HR Muslim dan lainya]
Wallahu a’lam
[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji
dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz
Al-Musnad, terbitan Pustakan Imam Asy-Syafi'i. Penerjemah H.Asmuni Solihan
Zamakhsyari Lc]
MENCONTOHI HAJI, UMRAH,
& ZIARAH YANG SUNNAH
Oleh:
Abu Farouq al-Atshary
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Download Kuliah – Keratan 01,
Keratan 02
Muqaddimah
Ibadah
haji, adalah salah satu dari tuntutan agama yang terdapat dalam rukun Islam
yang lima. Ia merupakan seruan Allah kepada sekalian manusia. Oleh itu, setiap
insan yang beriman wajib menunaikannya setelah mempunyai kemampuan kerana ia
telah diperintahkan oleh Allah Azza wa-jalla di dalam firman-Nya:
وَللهِ
عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
“Mengerjakan
haji adalah kewajipan manusia terhadap Allah, iaitu bagi orang yang mampu
mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (Ali Imran, 97)
وَأَذِّنْ
فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ
“Dan
serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji”. (Al-Hajj, 27)
Menurut
kesepakatan para ulama Salaf as-Soleh, sebelum seseorang pergi menunaikan
ibadah haji, maka wajiblah terlebih dahulu mempelajari sifat haji Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam, kerana mencontohi (ittiba’) cara-cara baginda
mengerjakan haji adalah wajib.
Baginda
bersabda:
لِتَأْخُذُوْا
عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ
“Agar
kamu sekalian sentiasa mengambil (mencontohi) tata cara mengerjakan ibadah haji
dari aku”. (H/R Muslim)
Allah
Subhanahu wa-Ta’ala telah memerintahkan agar setiap amal ibadah berpandukan
(mencontohi) ibadah yang telah dicontohkan oleh RasulNya. Allah Subhanahu
wa-Ta’ala berfirman:
لَقَدْكَانَ
لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَالْيَوْمَ
اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sesungguhnya,
telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, iaitu bagi
orang yang mengharap rahmat dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah”. (Al-Ahzab, 21)
Oleh
yang demikian, atas kesedaran tentang kurangnya buku-buku rujukan yang berkaitan
dengan manasik haji, maka penulis berusaha menyiapkan buku ini untuk
dimanfaatkan oleh setiap bakal jamaah yang akan menunaikan haji.
Penulis
berdoa agar buku ini dan buku-buku yang ditulis oleh para ulama Salaf as-Soleh
yang lainnya, semuanya dapat memberi sumbangan dan panduan kepada mereka yang
ingin menunaikan haji dengan cara mencontohi sifat haji Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa-sallam.
Semoga
haji, umrah dan segala amalan yang berkaitan dengan haji dan umrah yang akan
para jamaah kerjakan, sentiasa mendapat keberkatan, haji yang mabrur dan di
dalam rahmat serta pemeliharaan Allah Azza wa-Jalla. Amin! Wallahu a’lam.
UMRAH DAN HAJI
Haji
menurut ahli ilmu ialah mengangkat suara ketika bertalbiyah. (Lihat: Hajjatun
Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam kama rawahu ‘anhu Jabir radiallahu ‘anhu.
Nasruddin al-Albani) Haji dan umrah pula bermaksud: Berihram, tawaf, sa’i serta
tahalul. (Lihat: Subulus Salam. 2/178)
Ihram
adalah niat haji atau umrah, iaitu kesimpulan (tekad) di hati untuk mengerjakan
ibadah haji atau umrah. (Lihat: Fatwa-Fatwa Haji & Umrah. Sheikh Soleh
al-Uthaimin)
Adapun
talbiyah ialah jawapan terhadap seruan Allah yang terdapat di dalam firmanNya
(Lihat: Fatwa-Fatwa Haji & Umrah. Sheikh Soleh al-Uthaimin):
وَأَذِّنْ
فِى النَّاسِ بَالْحَجِّ
“Dan
serukanlah (panggillah) kepada manusia untuk menunaikan haji”. (Al-Haj, 27)
Menunaikan
haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima yang wajib ditunaikan bagi
mereka yang berdaya.
Ibadah
haji dan umrah adalah wajib sebagaimana yang diwajibkan oleh Umar bin
al-Khattab, (Lihat: al-Muhalla 3069. Ibnu Hazm) wajib (Sebagaimana pendapat
para sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah. Ia telah
dijelaskan dalam al-Muhalla oleh Ibnu Hazm. Ibnu Khuzaimah 3066-3068. Juga oleh
Imam al-Bukhari 2/198) dikerjakan sekali seumur hidup. Dan adalah sunnah
mengerjakan beberapa kali haji dan umrah bagi mereka yang mampu. Adapun haji
yang mabrur akan mendapat balasan syurga sebagaimana hadis:
اَلْحَجُّ
الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Haji
yang mabrur tiada baginya balasan selain syurga”. (H/R Ahmad, Bukhari 2/198,
Muslim 4/170 dan selain mereka)
Umrah
waktunya tidak terbatas, boleh dikerjakan pada bila-bila masa, namun yang lebih
afdal dan diutamakan ialah dibulan Ramadan. (اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ
بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرٌ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dari satu umrah kesatu umrah, menjadi penebus dosa antara keduanya. Sedangkan
haji yang mabrur, tidak ada balasan baginya selain syurga”. H/R Bukhari 2/198.
Muslim 4/170)
Allah
Subhanahu wa-Ta’ala telah berfirman tentang wajibnya menunaikan haji dan umrah:
وَللهِ
عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ
فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
“Dan
mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, iaitu bagi orang
yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(Ali Imran. 97)
وَأَتِمُّوْ
الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ
“Sempurnakanlah
haji dan umrah kerana Allah”. (Al-Baqarah, 2:196)
Dan
banyak lagi dalil-dalil dari al-Quran dan hadis-hadis sahih yang menunjukkan
wajibnya menunaikan haji dan umrah. Hendaklah mensegerakan menunaikan haji bagi
yang telah mampu, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
تَعَجَّلُوْا
الْحَجَّ (يَعْنِيْ الْفَرِيْضَةَ) فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِيْ مَا يَعْرِضُ لَهُ.
“Bersegeralah
kamu menunaikan haji (haji yang wajib), kerana sesungguhnya seseorang dari kamu
tidak mengetahui apa yang akan menimpa kepadanya”. (H/R Ahmad dan selain
darinya)
مَنْ
أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ ، فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ وَتَضِّلُّ الرَّاحِلَةُ
وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ.
“Barangsiapa
ingin menunaikan haji, maka hendaklah bersegera melakukannya, kerana boleh jadi
dia ditimpa sakit, ketiadaan kenderaan atau terpaksa memenuhi keperluan yang
lain”. (H/R Ahmad dan Ibnu Majah)
Malah
ada ancaman dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bagi mereka yang mampu
tetapi tidak mahu menunaikan haji, iaitu sabda baginda:
مَنْ
مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً ، فَلَمْ يَحُجُّ ، فَلاَ عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ يَهُوْدِيًّا
أَوْ نَصْرَانِيًّا.
“Barangsiapa
yang telah memiliki bekalan dan kenderaan, lalu dia tidak mengerjakan haji,
maka bila mati, ia mati sebagai Yahudi atau Nasrani”. (H/R Tirmizi. Sanad hadis
ini telah dilemahkan oleh Syeikh Nasruddin al-Albani. Lihat: Daif Jami As-Sagir
No. 5860. Dan Musykat No. 2521)
Namun
kesempurnaan haji sehingga mencapai haji mabrur hanya setelah mematuhi
hadis-hadis berikut:
خُذُوْا
عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ ، فَإِنِّيْ لاَ أَدْرِيْ لَعَلِّيْ لاَ أَحِجُّ بَعْدَ عَامِيْ
هَذَا
“Ambillah
contoh (cara menunaikan haji kamu) dariku, sesungguhnya aku tidak pasti apakah
masih akan berhaji selepas tahun ini”.
لِتَأْخُذُوْ
مَنَاسِكَكُمْ
“Hendaklah
kamu mengambil cara-cara ibadah haji kamu dariku”. (H/R Bukhari dan Muslim)
Iaitu
kesempurnaan haji sehingga mendapat haji yang mabrur, ialah setelah berittiba’
kepada sifat haji Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam yang diperintahkan
semua manusia agar mematuhinya. Baginda bersabda: “Supaya kamu hanya mengambil
dariku tata-cara kamu mengerjakan haji”. (H/R Bukhari dan Muslim) Malah
sewajarnya ditaati perintah Allah Azza wa-Jalla di dalam firmanNya:
وَمَآ
اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا
“Dan
apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kamu, maka terimalah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagi kamu, maka tinggalkannya”. (Al-Hasyr, 7)
NIAT HAJI & UMRAH
MENURUT SYARA’
Niat
ialah menyengaja (sengaja) atau berkehendak melakukan sesuatu, atau juga
mengetahui maksud dan mengetahui sesuatu yang akan dikerjakan. Sebagaimana
sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:
إِنَّمَا
اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Bahawasanya
setiap amal itu berserta dengan niat, dan setiap seseorang memperolehi dari apa
yang diniatkan”. (Hadis Muttafaqun ‘alaihi)
Mereka-reka
ayat niat, sehingga menjadi susunan ayat niat yang khusus, menjelaskan di dalam
ayat niat tersebut maksud dan tujuan amal yang akan dilakukan, lalu melafazkan
sebagaimana kebiasaannya dilakukan oleh kebanyakan kaum Muslimin, yang disangka
oleh mereka sebagai wajib sehingga ia dilafazkan dalam semua ibadah yang utama,
seperti berwuduk, mandi junub, solat, puasa, zakat, haji, umrah dan
lain-lainnya, sedangkan yang benar, mereka yang melafazkan, membaca atau
memperdengarkan bacaan niatnya dengan jahrah (dengan bersuara), adalah amalan
yang telah disepakati oleh para ulama umat Islam sebagai perbuatan yang bid’ah,
kerana tidak ada dasarnya dari agama Islam yang mulia ini (perbuatan melafazkan
niat (Lihat: زاد المعاد 1/15. Ibnu Qaiyim) sebelum memulakan ibadah). Malah
melafazkan niat tidak ada keterangan dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam.
(Lihat: Fatwa-Fatwa Haji & Umrah. Bin Bazz)
Niat
adalah amalan hati, tidak ada nas yang mencontohkan bahawa ia dilafazkan dengan
lisan, diperdengarkan dengan suara atau dijahrahkan, sesiapa yang sengaja
melafazkan dengan jahrah atau mengeraskan suara, maka ia adalah perbuatan yang
bid’ah, demikianlah yang sahih mengikut kesepakatan ulama Salaf as-Soleh.
Menurut
pendapat yang rajih (lebih kuat/sahih), niat haji dan umrah disengajakan
(diniatkan) setelah sampai di miqat, iaitu berniat di miqat, tetapi memakai
pakaian ihram dibolehkan walau bukan di miqat (belum sampai di miqat). Dan
diwajibkan menyebutkan dengan lisan/perkataan manasiknya dalam talbiyah, sama
ada manasik haji atau umrah, iaitu dengan ucapan:
لَبَّيْكَ
اللَهُمَّ حَجًّا
Atau
لَبَّيْكَ
اللَهُمَّ عُمْرَةً
Dan
bukan mengucapkan/menyebutkan niatnya seperti melafazkan:
نَوَيْتُ
الحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى
Atau
أَللَّهُمَّ
إِنِّيْ أُرِيْدُ طَوَافَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ طَوَافَ القُدُوْمِ
للهِ تَعَالَى
Atau
أَللَّهُمَّ
إِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ أَسْعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ سَعْيَ
الحَجِّ للهِ تَعَالَى
Lafaz-lafaz
niat di atas dan sebagainya yang dilafazkan dengan suara keras (nyaring) adalah
lafaz yang bid’ah, kerana sama sekali tidak ada dalilnya dari syara' dan tidak
pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam kepada
umatnya, serta tidak pernah dicontohkan oleh para Salaf as-Soleh membaca dan
melafazkan niat seperti yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam.
Dianjurkan
bagi mereka yang khuatir tidak mampu melaksanakan manasiknya sampai selesai,
terutama bagi mereka yang sakit atau takut, iaitu diketika niat ihram agar
menyebut bersama niat ihramnya (talbiyahnya) sebutan berikut:
فَإِنْ
حَبَسَنِيْ حَابِسٌ ، فَمَحَلِّيْ حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ
“Jika
berlaku sesuatu yang menghalangku, maka tempatku ketika aku terhalang”.
Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah memerintahkan Dhaba’ah binti Zubir bin Abdul
Mutalib, agar menentukan syarat niat ini dalam hajinya ketika beliau mengadu
sakit.
Ucapan
di atas ini dibolehkan juga diucapkan (dilafazkan) oleh sesiapa sahaja yang menunaikan
haji atau umrah, kerana pada dasarnya ia adalah berupa suruhan secara umum.
MIQAT
Berihram
di miqat adalah wajib bagi setiap orang yang akan menunaikan haji atau umrah.
Tempat-tempat miqat telah ditentukan oleh syara sebagaimana hadis yang diriwayatkan
oleh Jabir radiallahu ‘anhu, iaitu:
Menurut
hadis riwayat Muslim bahawa penduduk Madinah miqatnya di Zul Khulaifah. Iaitu
satu tempat yang jaraknya enam batu dari Madinah. Ibn Qayyim berkata: Sekitar
satu batu. (Za’adul Maad. 2/178)
Yang
datang dari arah Syam, miqatnya di Juhfah yang jauhnya sekitar tiga marhalah
dari Mekah.
Yang
datang dari Yaman miqatnya ialah di Yalamlam. (H/R Muslim, Baihaqi & Ibnu
Majah)
Penduduk
Mekah (Ahli Mekah) pula miqatnya ialah di Mekah.
وَقَتَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ
، ولأَهْلِ الشَامِ الْجُحْفَةِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمْ وَقَالَ : هُنَّ
لَهُنَّ ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ يُرِيْدُ الْحَجَّ
وَالْعُمْرَةَ وَمَنْ كَانَ دُوْنَ ذَلِكَ فَمَهِلَّهُ مِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى
أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّوْنَ مِنْ مَكَّةَ
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di
Zulhulaifah, bagi penduduk Syam di al-Juhfah dan penduduk Yaman di Yalamlam.
Lalu baginda bersabda: Tempat-tempat miqat ini adalah bagi penduduknya dan bagi
orang yang melewatinya dari mereka yang bukan penduduknya, iaitu bagi orang
yang ingin haji dan umrah. Barangsiapa tempat tinggalnya lebih dekat ke Mekah
dari tempat-tempat miqat tersebut maka dia ihram dari tempat ia berada, hingga
penduduk Mekah, maka mereka berihram di Mekah”. (Hadis Muttafaqun ‘alaihi)
Yang
datang dari arah Iraq, maka miqatnya ialah di Dzatu Irq. Iaitu kira-kira empat
puluh dua batu dari Mekah. (Lihat: Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani)
Penduduk
dari Najd, miqatnya di Qurnul Manazil.
وَيَهِلُّ
أَهْلُ نَجْدِ مِنْ قَرْنٍ ، وَيُهِلُّ أَهْلَ الْيَمَنِ مِنْ يَلَمْلَمْ
“Penduduk
Najd ihram dari Qurnul Manazil dan penduduk Yaman ihram dari Yalamlam. (H/R
An-Nasaii)
Tempat-tempat
miqat yang disebutkan di atas, semuanya telah ditetapkan oleh Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam
Muslim, Ibnu Majah, as-Syafie, Baihaqi, Ahmad at-Thayalisi. Dan lihat
penjelasan Abu Nu’im dalam kitab Al-Mustakhrij yang berkaitan dengan miqat.
SOLAT DUA RAKAAT IHRAM
Solat
dua rakaat ihram hukumnya sunnah menurut jumhur ulama. (Lihat: Fatwa-fatwa Haji
& Umrah. Ibn Bazz) Jumhur ulama yang menilai sunnah berdasarkan hadis:
قَالَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : صَلِّ فَى هَذَا الْوَادِيْ الْمُبَارَكِ ، وَقُلْ عُمْرَةٌ
فِى حَجَّةٍ
“Allah
Azza wa-Jalla berfirman: Solatlah kamu di lembah yang diberkati ini dan
katakanlah: Umrah dan haji”. (H/R Ahmad, Bukhari dan Abu Daud)
Maksud
lembah yang diberkati ialah di lembah al-Atiq dalam haji wada’. Malah terdapat
riwayat dari seorang sahabat bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam solat
sunnah dua rakaat kemudian ihram. (Lihat: Fatwa-fatwa Haji & Umrah. Ibn
Bazz) Dan bagi yang terlupa untuk solat sunnah sebelum ihram, maka tidak ada
qada’ baginya.
TALBIYAH UMRAH ATAU HAJI
Maksud
talbiyah ialah jawapan terhadap seruan Allah Subhanahu wa-Ta’ala sebagai
makhlukNya, semata-mata untuk beribadah haji ke rumahNya (Baitullah al-Haram di
Mekah), menurut lisan kekasihNya (Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam).
(Lihat: Hajjatun Nabi saw. No. 15) Menurut Ibnu aimiyah, erti talbiyah ialah:
“Saya menjawab seruanMu, tunduk patuh kepada hukumMu, taat terhadap perintahMu
dan sentiasa berkeadaan demikian”. (Lihat: Majmu’ Fatawa. Ibn Taimiyah)
Adapun
lafaz yang diucapkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam, para sahabat
dan para Salaf as-Soleh semasa berihram untuk menunaikan haji atau umrah ialah:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ حَجًّا
“Ya
Allah, aku sambut seruanMu untuk haji!
Dan
jika ibadah umrah baginda melafazkan:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ عُمْرَةً
“Ya
Allah, aku sambut seruan Mu untuk umrah!”.
Jabir
radiallahu ‘anhu berkata:
“Kami
mengucapkannya dengan lantang”. (H/R Muslim)
Menurut
Ibnu Taimiyah: Membisu dalam mengerjakan Ibadah haji atau umrah, tidak mahu
berkata sehingga tidak melafazkan talbiyah, maka ia adalah suatu perbuatan yang
bid’ah. (Lihat: Al-Iqtida’ hlm. 60. Ibnu Taimiyah)
Jabir
berkata lagi:
“Dan
tidaklah kami niatkan (talbiyah haji) kecuali untuk haji”. (H/R Bukhari, Muslim
dan Nasaii)
Ini
bermakna, talbiyah adalah wajib, kerana sebagai niat yang wajib dilafazkan.
Setelah melafazkan lafaz di atas, baginda meneruskan dengan bertalbiyah dengan
suara nyaring (Jabir berkata: “Kami melaungkan (talbiyah) dengan suara
lantang”. H/R Muslim) yang juga hukumnya wajib, iaitu:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، إِنَّ الْحَمْدَ ،
وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Aku
sambut (tunaikan) seruanMu ya Allah! Aku sambut seruanMu ya Allah! Aku sambut
seruanMu! Tiada sekutu bagiMu, aku sambut seruanMu! Sesungguhnya segala pujian,
nikmat dan kekuasaan adalah bagiMu. Tidak ada satupun sekutu bagiMu”. (H/R
Bukhari 2/147. Dan Muslim. 4/7. Ibn Majah)
Atau
boleh menambah bertalbiyah seperti berikut:
لَبَّيْكَ
وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ وَالرُّغَبَاءُ
إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ لَبَّيْكَ حَقًّا حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًا
“Aku
penuhi panggilanMu, aku bahagia memenuhi panggilanMu. Semua kebaikan ada
ditanganMu dan keburukan tidak kembali kepadaMu. Aku penuhi panggilanMu dengan
penuh sukacita dalam menghadap kepadaMu dan beramal. Aku penuhi panggilanMu,
bagiMu dengan sepenuhnya dalam mengabdi dan merendahkan diri”. (Hadis
Muttafaqun ‘alaihi)
Ibnu
Abbas menjelaskan bahasa bertakbir dan bertahlil sebagai pengganti talbiyah
adalah perbuatan bid’ah. (Lihat: Kanzul Ummal. 3/30) Bertalbiyah dengan cara
serentak (dengan satu suara), juga adalah amalan bid’ah. ((1). Lihat:
Al-Madkhal 2/221. Ibnu Hajj. (2). Syarah at-Tariqah al-Muhammadiyah. 1/115. H.
Rajab)
Talbiyah
bagi orang yang umrah selesai (dihentikan) apabila sampai di Hajar Aswad, iaitu
ketika ingin memulakan tawaf. Tetapi talbiyah bagi yang mengerjakan haji
selesai ketika menghampiri (ingin melimpar batu) di Jamrah ‘Aqabah.
Perlu
diketahui, bahawa orang yang sedang ihram adalah bid’ah hukumnya jika melakukan
solat tahiyatul masjid setelah memasuki Masjid al-Haram. Pengganti tahiyatul
masjid ialah tawaf kemudian solat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. (Lihat:
Al-Qawa’id an-Nuraniyah. Hlm. 101. Ibnu Taimiyah) Kerana menurut hadis bahawa:
“Kami
memasuki Mekah pada waktu matahari pagi mulai naik (waktu duha), lalu Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam menuju Masjid al-Haram dan baginda menambatkan
untuknya, kemudian masuk ke masjid, lalu Nabi mengusap Hajar Aswad”. (H/R Ibnu
Khuzaimah, al-Hakim, Baihaqi, Ahmad dan Ibnu Jarud)
“Kemudian
baginda berlari-lari kecil (berjalan cepat dengan langkah kecil) (Iaitu menurut
Imam An-Nawawi) sehinggalah sampai ke Hajar Aswad tiga kali keliling. (H/R
Ahmad) Dan berjalan empat kali keliling dengan tenang”. (Lihat: Syarah
al-Ma’ni. At-Tahawi)
Semasa
mengusap Hajar Aswad (jika tidak berdaya menciumnya) ialah dengan tangan kanan
(sebelah tangan sahaja), dan disunnahkan mengusap Hajar Aswad disetiap keliling
(putaran), (Lihat: Penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim) atau
mengisyaratkan dengan tangan atau dengan tongkat sambil membaca takbir.
Termasuk amalan sunnah ialah mengusap Rukun Yamani, juga bertakbir setiap kali
mengusapnya sebagaimana hadis Ibnu Umar, tetapi tidak disunnahkan mencium Rukun
Yamani atau memberi isyarat dengan tangan setiap kali melintasinya jika tidak
mampu mengusapnya.
Semasa
tawaf baginda sentiasa berithiba’ (الإضْطِبَاعُ), iaitu memasukkan kain
ihramnya di bawah ketiak kanannya dan hujungnya menutup bahu kirinya sehingga
kelihatan bahu kanan baginda. Apabila selesai tawaf baginda membentangkan kain
ihramnya seperti sediakala (tidak berithiba’). (Lihat penjelasan lanjut dalam
al-Mughni. Ibnu Qudamah) Ibnu Abidin berkata:
“Disunnahkan
berithiba’ (اَلإِضطِبَاعُ) ketika memulakan tawaf, sehinggalah selesai, tidak
ada cara yang selainnya”. ((1). Lihat: Al-Hasyiah. Ibnu Abidin. (2). Lihat:
Fathul Qadir 2/150. (3). Lihat: Talbisul Iblis. Hlm. 154. Ibnu Qaiyim)
HIJIR ISMAIL
Tidak
dibolehkan (tidak sah) tawaf sama ada tawaf haji, umrah atau tawaf sunnah bagi
yang bertawaf apabila masuk (melalui/melintasi) hijir Ismail. Sahnya tawaf
hanya mengelilingi Baitullah (Kaabah), sedangkan hijir Ismail termasuk
Baitullah (Kaabah) sebagaimana hadis dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha:
“Dari
‘Aisyah radiallahu ‘anha beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabi sallallahu
‘alaihi wa-sallam tentang hijir Ismail, maka baginda bersabda: Ia termasuk
Baitullah (Kaabah)”. (H/R Muslim)
Dan
diriwayat yang lain:
“Aisyah
berkata: Aku bernazar untuk solat di dalam Baitullah (Kaabah), maka Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Solatlah kamu di hijir Ismail, kerana
sesungguhnya hijir Ismail itu termasuk Baitullah”.
Allah
Azza wa-Jalla hanya memerintahkan agar tawaf mengelilingi Baitullah (Kaabah)
sebagaimana firmanNya:
وَلْيَطَّوَّفُوْا
بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
“Dan
hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling Baitullah (Kaabah)”. (Al-Haj, 29)
Tawaf
ialah dengan cara mengelilingi Kaabah (Baitullah), bukan melintasinya atau
masuk ke dalamnya. Oleh itu tidak terdapat dalil yang menunjukkan yang
membolehkan tawaf melintasi Hijir Ismail.
LARANGAN SEMASA BERIHRAM
Ada
beberapa perkara yang terlarang ketika sedang berihram:
1
- Bagi lelaki khususnya dilarang memakai sarung kaki atau sepatu, sebagaimana
hadis:
“Janganlah
kamu yang sedang ihram memakai sepatu, kecuali jika tidak mempunyai sandal
(capal), maka potonglah sepatu kamu ke paras di bawah buku lali (mata kaki)”.
(H/R Bukhari dan Muslim)
Menurut
Abdulaziz bin Bazz rahimahullah, hadis di atas ini mansukh kerana menurut
beliau:
وَجَاءَ
عَنْهُ فِى خُطْبَتِهِ فِى حَجَّةِ الْودَاعِ فِى عَرَفَات : أَنَّهُ أَمَرَ مَنْ لَمْ
يَجِدْ نَعْلَيْنِ أَنْ يَلْبَسَ الْخُفَّيْنِ ، وَلَمْ يَأْمُرْ بِقَطْعِهَا
“Dan
telah datang dari baginda di dalam khutbahnya, pada haji wada’ di ‘Arafah:
Bahawasanya baginda memerintahkan sesiapa yang tidak memperolehi sandal, agar
memakai sepatu, dan tidak diperintahkan agar memotongnya”. (Lihat: فتاوى تتعلق بأحكام
الحج ةالعمرة والزيارة hlm. 30. Ibnu Bazz)
Ibnu
Bazz rahimahullah menambah:
والأرجح
ان شاء الله أن القطع منسوخ ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم خطب الناس من الحاضر والبادية
ممن لم يحضر خطبته فى المدينة التى أمر فيها بالقطع ، فلوكان القطع واجبا أو مشروعا
لبينه للأمة ، فلما سكت عن ذلك فى عرفات دل على انه منسوخ وأن الله جل وعلا عفا وسامح
العباد عن القطع لما فيه من افساد الخف ، والله أعلم
“Dan
yang paling rajih (sahih) insya Allah, bahawa memotong itu adalah mansukh.
Bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam berkhutbah kepada manusia di Arafah,
telah dihadiri khutbah baginda oleh khalayak manusia yang amat ramai, sama ada
dari kota dan perkampungan, hanya mereka yang tidak menghadiri khutbah baginda
dari Madinah sahaja yang masih menyuruh memotong sepatu. Jika sekiranya memotong
sepatu itu wajib atau telah disyariatkan, pasti telah dijelaskan oleh Nabi
kepada umatnya, maka apabila berdiam dari hal tersebut di Arafah, menunjukkan
bahawa ia telah dimansukhkan. Sesungguhnya Allah Jalla wa-‘Ala telah memaafkan
dan mengampunkan para hamba dari memotong sepatunya, yang mana memotongnya
adalah membawa kerosakan kepada sepatu, wallahu ‘alam. (Lihat: فتاوى تتغلق بأحكام
الحج والعمرة والزيارة hlm. 31. Ibn Bazz)
2
- Khusus bagi lelaki, dilarang memakai semua jenis pakaian berjahit seperti
baju, menutup kepala (memakai songkok, kupiah, serban), memakai seluar.
لاَ
يَلْبِسُ الْقَمِيْصَ ، وَلاَ الْعَمَائِمَ ، وَلاَ السَّرَاوِيْلَ ، وَلاَ الْبَرَانِسَ
، وَلاَ الْخِفَافَ إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ نَعْلَيْنِ ، فَيَلْبَسُ الْخُفَّيْنِ
، وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ
“Tidak
boleh memakai baju, serban, seluar, tudung kepala dan sepatu, kecuali orang
yang tidak memperolehi capal (sandal), maka ia boleh memakai sepatu. Dan
hendaklah dia memotong khuf sampai ke bawah mata kaki”. (H/R Bukhari dan
Muslim)
Tetapi
jika tidak memperolehi kain ihram atau sandal, maka diperbolehkan memakai
seluar atau sepatu iaitu berdasarkan hadis:
مَنْ
لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسِ السَّرَاوِيْلَ ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ
فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ
“Barangsiapa
yang tidak memperolehi kain (kain ihram) maka hendaklah dia memakai seluar, dan
sesiapa yang memperolehi sandal (capal), maka hendaklah dia memakai sepatu”.
(H/R Bukhari dan Muslim)
3
- Dilarang bagi wanita menutup muka atau memakai niqab (نقاب) kecuali jika
terdapat lelaki yang bukan mahramnya, maka dibolehkan untuk memakai niqab. Dan
juga dilarang memakai sarung tangan kerana menurut hadis:
لاَ
تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تَلْبِسُ الْقُفَّازَيْنِ
“Orang
perempuan tidak menutup muka (memakai niqab) dan tidak boleh memakai sarung
tangan”. (H/R Bukhari, Tirmizi dan An-Nasaii)
Dikecualikan
jika terdapat lelaki yang bukan mahramnya, maka dibolehkan bagi para wanita
menutup wajahnya, iaitu berpandukan kepada hadis yang diriwayatkan oleh
Daraqutni dari Ummu Salamah dan juga hadis dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha:
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّوْنَ بِنَا وَنَحْنُ
مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا حَاذَوْنَا سَدَلَتْ
إِحْدَانَا جِلْبَابِهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا ، فَإِذَا جَاوَزُوْنَا كَشَفْنَاهُ
“Dari
‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata: Pernah rombongan lelaki melewati kami dan
kami bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam, maka ketika mereka
berdekataan dengan kami, setiap orang (wanita) antara kami menjulurkan
(menurunkan) jilbabnya (kain penutup mukanya), setelah mereka telah melewati
kami, maka kami membukanya”. (H/R Abu Daud dan Ibn Majah)
4
- Dilarang memakai minyak wangi atau wangi-wangian (kecuali sebelum berihram).
5
- Dilarang mencukur, menggunting atau mencabut rambut, misai, janggut dan bulu
ari-ari. (Mencukur janggut hukumnya haram sama ada semasa berihram atau di luar
ihram, kerana dengan jelas Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam melarang
dari menyerupai orang-orang kafir sebagaimana hadis baginda: خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ
أُخْفُوْا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوْا اللِّحْيَ “Bezakanlah diri kamu dengan
orang-orang musyrik, tipiskanlah misai kamu dan panjangkanlah janggut kamu”.
H/R Bukhari dan Muslim)
6
- Dilarang juga dari memotong kuku kecuali jika adanya sebab yang membolehkan
seperti patah atau pecah.
7
- Dilarang bersetubuh, bercumbu serta berasmara.
8
- Dilarang meminang atau bernikah, sama ada untuk dirinya atau untuk mewakili
orang lain.
9
- Dilarang memburu binatang buruan di darat.
10
- Dilarang rafas, berbuat fasik dan berbantah-bantahan.
فَمَنْ
فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِى الْحَجِّ
“Barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
rafs, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji”.
(Al-Baqarah, 2:197)
Adapun
maksud rafs (رفث) ialah: Melakukan persetubuhan atau hal-hal yang mengarah
kepada melakukan persetubuhan. Maksud fasik ialah: Semua perbuatan yang berupa
maksiat. Dan jidal ialah: Perdebatan dalam hal-hal yang tidak mendatangkan
manfaat atau kebaikan (tidak berguna), terutamanya yang boleh membawa kepada
pertengkaran, pergaduhan, mengganggu ketenteraman atau yang memudaratkan orang
lain. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah bersabda:
مَنْ
حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ ، وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa
haji dan dia tidak rafs dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti hari
ketika dia baru dilahirkan oleh ibunya”. (H/R Ahmad, Bukhari, An-Nasaii dan
Ibnu Majah)
PERKARA-PERKARA YANG
DIBOLEHKAN
Di
dalam kitab Hajjatun Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam, (Lihat: Hajjatun Nabi
saw. Hlm. 26-31 Al-Albani) terdapat perkara-perkara yang dibolehkan semasa
melakukan ihram sebagai keringanan, antaranya ialah:
1
- Memakai sandal, capal dan tali pinggang. (Namun dilarang bagi setiap lelaki
memakai cincin emas, sama ada semasa berihram atau di luar ihram: نَهَى صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ خَاتِمِ الذَهَبِ. “Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam
melarang memakai cincin emas”. H/R Bukhari dan Muslim. Dan hadisnya lagi: يَعْمَدُ
أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلَهُمَا فِيْ يَدِهِ “Apakah salah
seorang dari kamu sengaja mengambil bara dari neraka kemudian meletakkannya di
tangannya?”. H/R Muslim)
2
- Menukar atau mengganti kain ihramnya bagi lelaki atau wanita.
Ibn
Hazam membolehkan mandi atau membersihkan dirinya, termasuklah mencuci
kepalanya. Begitulah menurut hadis:
“Dari
Abdullah bin Hunain dari Abdullah bin Abbas dan Musawwir bin Makhramah, iaitu
ketika keduanya berselisih pendapat di Abwa’: Seorang yang sedang ihram
bolehkah mencuci rambutnya, maka dalam hal ini Musawwir berpegang bahawa
seseorang yang sedang ihram tidak boleh membasuh rambutnya, kemudian Ibnu Abbas
mengutus Abdullah bin Hunain kepada Abu Ayyub al-Ansari untuk menanyakan hal
tersebut. Pada saat ditemui, Abu Ayyub sedang mandi bertutup pakaian. Abdullah
bin Hunain berkata: Aku memberi salam kepadanya. Dia bertanya: Siapa itu? Aku
menjawab: Aku Abdullah bin Hunain yang diutus oleh Abdullah bin Abbas untuk
menanyakan kepadamu bagaimana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam mencuci
rambutnya ketika beliau ihram:
فَوَضَعَ
اَبُوْ اَيُّوْب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَدَهُ عَلَى الثَّوْبِ ، فَطَأْطَأَهُ حَتَّى
بَدَا لِيْ رَأْسُهُ ، ثُمَّ قَالَ لإِنْسَانٍ يَصُبُّ : أَصْبِبْ ! فَصَبَّ عَلَى
رَأْسِهِ ، ثُمَّ حَرَّكَ رَأْسَهُ بِيَدِهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ثُمَّ
قَالَ : هَكَذَا رَأَيْتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ، وَزَادَ مُسْلِمُ
: فَقَالَ الْمُسَوَّرُ لإِبْنِ عَبَّاسٍ : لاَ أُمَارِيْكَ أَبَدًا
“Abu
Ayyub meletakkan tangannya di atas kain, kemudian menundukkan kepalanya hingga
aku melihat kepalanya, lalu berkata kepada seseorang. Tuangkanlah air. Kemudian
orang itu menuangkan air, sementara Abu Ayyub meramas-ramas rambutnya ke depan
dan ke belakang dengan kedua tangannya, lalu ia berkata: Beginilah aku melihat
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam melakukannya. (H/R Bukhari) Imam Muslim
menambah, Musawwir berkata kepada Ibnu Abbas: Aku tidak akan membantahmu lagi”.
(H/R Muslim)
Dari
Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu berkata:
رَبَّمَا
قَالَ لِيْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : تَعَالَى أُبَاقِيْكَ فِى
الْمَاءِ أَيُّنَا أطْوَلُ نَفْسًا ، وَنَحْنُ مُحْرِمُوْنَ
“Acap
kali Umar bin al-Khattab berkata kepadaku: Kemarilah! Kita bersama-sama
menyelam ke dalam air siapakah antara kita yang lebih panjang nafasnya,
sedangkan ketika itu kami sedang ihram”. (H/R Al-Baihaqi. Hadis Sahih. Lihat:
Hajjatun Nabi. Nasruddin Al-Albani)
Di
hadis yang lain pula:
اَلْمُحْرِمُ
يَدْخُلُ الْحَمَّامُ
“Orang
yang sedang berihram boleh mandi”. (H/R Baihaqi. 5/63)
3
- Dibolehkan memakai tali pinggang.
4
- Dibolehkan mencium benda-benda yang wangi atau wangi-wangian walaupun
dilarang memakainya. Iaitu berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu:
وَيَشُمُّ
الرَّيْحَان
“Dan
mencium wangi-wangian”. (H/R Baihaqi. 5/62. Dengan sanad sahih)
5
- Bernaung di bawah bangunan, khemah, pokok atau payung. Sebagaimana yang
diterima dari Ummu Husain ia berkata:
حَجَجْتُ
مَع النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَّةُ الْوَدَاعِ ، فَرَأَيْتُ أُسَامَةَ
وَبَلاَلاً رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، وَاَحَدُهَمَا آخِذٌ بِخَطَامِ نَاقَتِهِ ، وَاْلآخَرَ
رَافِعٌ ثَوْبَهُ يَسْتَرُهُ مِنَ الْحَرِّ ، حَتَّى رَمَى جُمْرَةَ الْعَقَبَةِ
“Aku
mengerjakan haji besama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam pada Haji
Wada’. Kemudian aku melihat Usamah dan Bilal radiallahu ‘anhuma, salah seorang
dari keduanya memegang tali kekang unta, sementara yang lain mengangkat kainnya
untuk melindungi dari pancaran panas. Mereka lakukan begitu sehingga melempar
Jamrah Aqabah”. (H/R Muslim dan Al-Baihaqi 5/69)
6
- Dibolehkan bersikat, menggaru kepala (rambut) atau janggut walaupun ada
beberapa helai yang gugur, runtuh atau tercabut, kerana bukan bertujuan untuk
mencabutnya. (Dalilnya berdasarkan hadis Abu Ayyub: “Abu Ayyub meramas-ramas
rambutnya (semasa membasuh rambutnya) ke hadapan dan ke belakang”. H/R Bukhari
dan Muslim) Ibn Hazm berkata: Baginda sallallahu ‘alaihi wa-sallam hanya
menegah kita mencukur rambut tanpa ada alasan ketika ihram. (Lihat: Penjelasan
hal ini terdapat dalam Al-Muhalla 7/257 Oleh Ibnu Hazm) Menurut Syeikhul Islam
Ibn Taimiyah: Tidaklah mengapa bagi orang yang sedang berihram, menggaru
anggota tubuhnya, (Kepala termasuk anggota, maka tidak mengapa menggaru kepala.
Ibn Taimiyah berkata: Orang yang sedang ihram dibolehkan menggaru badannya,
berbekam di kepalanya atau di bahagian tubuhnya, bahkan jika diperlukan ia
dibolehkan mencukur bulu kemaluannya”. Lihat: Kitab Manasik 2/338 Ibnu
Taimiyah) begitu juga jika gugur beberapa helai rambutnya ketika mandi. (Lihat:
Al-Majmu’ah ar-Rasail al-Kubra. 2/368) Berdasarkan hadis dari Ummu Alqamah bin
Alqamah beliau berkata:
سَمِعْتُ
عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُسْأَلُ عَنِ الْمُحْرِمِ
: أَيَحُكُّ جَسَدَهُ ؟ فَقَالَتْ : نَعَمْ ، فَلْيَحكهُ وَلْيَشْدُدْ ، وَلَوْ رُبِطَتْ
يَدَايَ ، وَلَمْ أَجِدْ إِلاَّ رِجْلِيْ لَحَكَكْتُ
“Aku
mendengar ‘Aisyah isteri Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam ditanya tentang
orang yang sedang berihram, apakah orang yang sedang berihram boleh menggaru
badannya? Dia berkata: Walaupun (sekiranya) tangan aku diikat (aku tetap
menggaru), dan aku merasa gatal pada kakiku, maka aku menggarunya”. (H/R Malik
1/358/92. Sanadnya hasan secara syawahid. Lihat: Hajjtun Nabi saw.)
7
- Dibolehkan berbekam walaupun terpaksa memotong sedikit dari rambutnya,
berdasarkan hadis dari Ibnu Buhainah radiallahu ‘anhu:
اِحْتَجَمَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَوَ مُحْرِمٌ (لِحَيِّ جَمَل) مَوْضِعٌ
بِطَرِيْقِ مَكَّةَ فَى وَسَطِ رَاْسِهِ
“Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah berbekam di tengah kepalanya, yang mana
baginda sedang berihram di Haiy Jaml. Iaitu suatu jalan di Mekah”. (H/R Bukhari
dan Muslim. (Muttafaqun ‘alaihi))
8
- Dibolehkan mencabut atau memotong kuku yang patah. Imam Malik meriwayatkan
dari Muhammad bin Abdillah bin Abi Maryan, beliau bertanya kepada Sa’id bin
Musayyab tentang kuku yang patah, sedangkan yang bersangkutan sedang berihram.
Sa’id menjawab: Potonglah! Hal ini dibolehkan berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas
radiallahu ‘anhu:
اَلْمُحْرِمُ
يَدْخُلُ الْحَمَّامُ ،وَيَنْزَعُ ضَرْسَهُ ، وَيَشُمُّ الرَّيْحَان وَإِذَا انْكَسَرَ
ظَفْرُهُ طَرَحَهُ
“Seseorang
yang sedang berihram dibolehkan mandi, mencabut gigi, mencium wangi-wangian,
memotong kuku yang patah”. (H/R Baihaqi 5/62. Dengan sanad yang sahih)
Dengan
penjelasan ini, sesiapa yang menentang dan membantah setiap perkara yang telah
dihalalkan oleh syara seperti mandi, mencuci kepala, menggaru badan atau
kepala, bersikat rambut, mencium wangi-wangian atau memotong kuku yang rosak,
maka hendaklah ia membawa hujjah atau dalil.
PERKARA-PERKARA YANG BID’AH
Terdapat
beberapa perbuatan atau amalan yang wajib ditinggalkan kerana ia termasuk
perkara-perkara yang menyalahi syara, batil atau bid’ah. Ia kebiasaannya
dilakukan oleh orang-orang yang jahil ketika ingin menunaikan haji atau umrah
(sebelum berangkat). Antara perkara-perkara bid’ah yang dimaksudkan ialah:
1
- Mengadakan majlis bacaan Berzanji (maulid), yasinan, kenduri arwah, doa
selamat atau mengadakan majlis-majlis zikir tertentu. Sama ada sebelum
berangkat ke Mekah atau setelah pulang dari mengerjakan haji.
2
- Berhutang, meminjam wang atau bergadai untuk menunaikan haji. Perbuatan
seperti ini dilarang dalam syara.
3
- Melaungkan azan sebelum berangkat atau sebelum menaiki kenderaan atau sesudah
berangkat (setelah menaiki kenderaan).
4
- Mengiringi keberangkatan jamaah haji ke lapangan terbang dengan bacaan
al-Quran atau dengan zikir-zikir yang khusus.
5
- Membaca atau melafazkan niat ketika ihram (kecuali talbiyah).
6
- Mengkhususkan memakai ihram di miqat dan melarang memakainya sebelum miqat.
7
- Menerima amanah dari orang yang belum mengerjakan haji supaya diserukan
namanya di Kaabah agar memperolehi seruan dari Allah.
8
- Menerima amanah agar menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad sallallahu
‘alaihi wa-sallam dan arwah para sahabat radiallahu ‘anhum.
9
- Ihram dari Tana’im atau Ja’ranah bagi yang tinggal di Mekah atau yang berada
di Mekah, sedangkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam berihram di Mekah
bagi penghuni Mekah sebagaimana sabda baginda:
“Sehingga
penghuni (penduduk) Mekah (ihramnya) dari Mekah”. (H/R Bukhari 2/142. Dan
Muslim 4/5)
Mereka
yang berada di Mekah, kemudian keluar dari Mekah untuk ihram haji adalah
bertentangan dengan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.
HUKUM TAWAF & CARA YANG
SUNNAH
Tawaf
ialah mengelilingi Kaabah sebanyak tujuh kali pusingan dan dalam keadaan Kaabah
berada di sebelah kirinya. Melafazkan niat dan mengangkat kedua tangan seperti
dalam solat ketika ingin tawaf atau ketika mengusap Hajar Aswad adalah
perbuatan bid’ah. (Lihat: Zaadul Ma’ad. 1/303. Ibnu Qaiyim) Begitu juga
meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri (bersedekap)
ketika tawaf (Lihat: Al-Madkhal. 1/122) adalah perbuatan bid’ah yang tiada
dalilnya dari syara.
Tawaf
di Kaabah merupakan perintah Allah Azza wa-Jalla:
وَلْيَطَّوَّفَ
بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
“Dan
hendaklah mereka melakukan tawaf mengelilingi Baitul’Atiq (Kaabah)”. (Al-Haj,
29)
Tawaf
dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad. Tidak pernah disyariatkan
mandi terlebih dahulu khusus untuk mengerjakan tawaf. (Lihat: Majmu’ah
ar-Rasail al-Kubra. 2/380. Ibnu Taimiyah) Begitu juga tidak pernah disyariatkan
agar memakai sarung kaki ketika tawaf, sama ada kerana takut terkena tahi
burung, (Lihat penjelasan lanjut dalam Majmu’ah ar-Rasail al-Kubra. 2/374. Ibnu
Taimiyah) bersentuhan dengan wanita atau sebagainya.
Apabila
melakukan tawaf, hendaklah berjalan dengan cepat ditiga pusingan (Lihat hadis
riwayat Imam Ahmad) dan berjalan biasa dipusingan keempat sehingga keakhir
pusingan. (Lihat hadis riwayat At-Tahawi dalam Syarah al-Ma’ani)
Apabila
sampai ke Hajar Aswad, disunnahkan mencium (Berebut-rebut, mendesak atau
berasak-asak untuk mencium Hajar Aswad adalah dilarang) (bukan mengucup),
(Mengucup Hajar Aswad dengan mengeluarkan bunyi adalah bid’ah. al-Madkhal.
4/223) atau menyentuh dengan tangan (Adalah perbuatan bid’ah membaca أَللُّهُمَّ
إِيْمَانًابِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ ketika mencium, mengusap atau
menyentuh Hajar Aswad. Lihat: Al-Mu’awwanah 2/124. (Penjelasan Imam Malik))
lalu menciumnya, (Lihat: Hajjatun Nabi. Muhammad Nashiruddin al-Albani) atau
menyentuh dengan sesuatu (seperti dengan tongkat) atau juga memberi isyarat
dengan tangan kanan jika tidak dapat menyentuh atau menciumnya. Dari Ibnu Abbas
beliau berkata:
“Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam tawaf di atas untanya, setiap kali sampai di Hajar
Aswad, baginda memberi isyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada pada baginda
dan seterusnya bertakbir”. (H/R Bukhari)
Apabila
sampai ke Rukun Yamani, disunnahkan menyentuhnya atau mengusap dengan tangan
kanan. Tidak disunnahkan menciumnya dan tidak bertakbir atau memberi isyarat
dengan tangan setiap kali melintasinya.
Setiap
kali sampai di Hajar Aswad, hendaklah bertakbir, iaitu dengan mengucapkan:
اَللهُ
اَكْبَرُ
“Allahu
Akbar/Allah Maha Besar”. (H/R Bukhari)
Atau
membaca:
بِسْمِ
اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Dengan
Nama Allah dan Allah Maha Besar”. (H/R Al-Baihaqi 5/79 dari Ibnu Umar. Menurut
An-Nawawi dan Ibn Hajar (dalam at-Talkhis) bahawa sanad hadis ini sahih)
Dengan
ini boleh dibaca salah satu dari dua lafaz takbir di atas. Namun yang paling
rajih dan jelas ialah hanya bertakbir (أللهُ أكْبَرُ) sebagaimana terdapat
dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari.
Tiada
doa, zikir atau bacaan khusus, kerana semasa tawaf, sa’i atau melontar jamrah,
tidak terdapat hadis yang sahih atau dalil yang mensyariatkan agar membaca
bacaan (zikir-zikir atau doa-doa tertentu) khusus. Berdoa semasa tawaf adalah
sunnah, bukan wajib, sama ada semasa mengerjakan tawaf wajib atau tawaf sunnah.
Boleh dibaca apa sahaja doa yang diinginkan sebagaimana keumuman hadis di bawah
ini:
إِنَّمَا
جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَالسَّعْيَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَة وَرَمْيُ
الْجِمَارِ لإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ
“Sesungguhnya
dijadikan tawaf di sekeliling Baitullah, sa’i di antara Safa dan Marwah dan
melontar Jamrah adalan untuk mengingati (berdoa kepada) Allah”. (H/R Ahmad dan
Abu Daud)
Malah
dibolehkan membaca al-Quran, berdoa atau berzikir. Kecuali apabila sampai
diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca doa:
رَبَّنَاآتِنَا
فِىالدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya
Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta
selamatkanlah kami dari azab neraka!”. (H/R Abu Daud. No. 1892. Dinyatakan
hasan oleh Al-Albani)
Hadis
di atas ini adalah hadis sahih dari jalan Abdullah bin Saib.
Berithiba’
(اَلإضْطِبَاعُ) iaitu memasukkan kain ihram di bawah ketiak sebelah kanan,
menutup bahu sebelah kiri dan tidak menutup bahu sebelah kanan. Cara berihram
seperti ini (اَلإِضْطِبَاعُ) hanya dilakukan semasa mengerjakan tawaf,
begitulah mengikut sunnah.
Berithiba’
selain ketika bertawaf (di luar tawaf) adalah menyalahi sunnah Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Ithiba’ hanya pada kaum lelaki sahaja.
SOLAT SELEPAS TAWAF
Selesai
tawaf, hendaklah menuju ke Maqam Ibrahim untuk solat dua rakaat. Amalan ini berdasarkan
hadis:
“Kemudian
baginda sallallahu ‘alaihi wa-salllam ketika sampai di Maqam Ibrahim ‘alaihis
sallam membaca ayat:
وَاتَّخِذُوْا
مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلَّى
“Dan
jadikanlah maqam (tempat berdiri) Ibrahim itu sebagai tempat solat”. (Al-Baqarah
2:125)
“Kemudian
(setelah itu) baginda sallallahu ‘alaihi wa-sallam memilih tempat sehingga
Maqam Ibrahim terletak antara baginda dan Kaabah, kemudian solat dua rakaat”.
(H/R Baihaqi dan Ahmad)
Dan
tidak semestinya menentukan tempat solat selepas tawaf hanya dikerjakan di
Maqam Ibrahim, atau berdekatan dengan Maqam Ibrahim sehingga berasak-asak.
Sebenarnya boleh solat di mana-mana sahaja asalkan di Masjid al-Haram. Cara
solat selepas tawaf yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam
ialah:
“Jabir
radiallahu ‘anhu berkata: Maka pada kedua rakaat tersebut beginda membaca
masing-masing (dirakaat pertama selepas al-Fatihah baginda membaca) قُلْ هُوَ اللهُ
اَحُدٌdan di rakaat kedua selepas al-fatihah baginda membaca قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ”.
(H/R Nasaii dan Tirmizi) Diriwayat yang lain: Baginda membaca قُلْ يَا أَيُّهَا
الْكَافِرُوْنَ dan kemudian membaca قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ “.
Selepas
solat sunnah, baginda terus minum air zam-zam sebagaimana dijelaskan dalam
sebuah hadis sahih:
“Kemudian
baginda pergi ke telaga Zamzam, meminum airnya dan menyiramkannya ke atas
kepalanya”. (H/R Ahmad)
Setelah
itu, baginda sallallahu ‘alaihi wa-sallam terus menuju ke Hajar Aswad untuk
menyentuhnya (jika mampu). Sebagaimana menurut hadis:
“Kemudian
baginda kembali ke Hajar Aswad dan mengusapnya”. (H/R Ahmad dari Jabir
radiallahu ‘anhu)
Setelah
semua itu selesai dikerjakan, baginda menuju ke Bukit Safa (melalui pintu Safa)
(H/R Tirmizi) untuk mengerjakan sa’i antara Safa dan Marwah. Apabila
menghampiri (mendaki Bukit Safa) baginda membaca:
إِنَّ
الصًّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ
“Sesungguhnya
Safa dan Marwah itu dari syiar-syiar Allah”. (Al-Baqarah 2:158)
Dan
seterusnya membaca:
أَبْدَأُ
بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Aku
memulakan dengan apa yang telah Alllah mulakan”. (H/R Muslim 4/40)
Atau
membaca dengan memulai dengan huruf “nun/ن”, iaitu:
نَبْدَأُ
بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Kami
memulakan dengan apa yang telah Allah mulakan”. (Menurut Malik, Sufiyan dan
Yahya bin Sa’id al-Qatthan, telah ijmak bahawa riwayat نَبْدَأُ adalah untuk
menunjukkan kebersamaan)
Semua
bacaan di atas tidak diulang-ulang kerana tiada dalil yang mengizinkannya.
Apabila naik ke Bukit Safa, sambil menghadap (sehingga melihat Kaabah)
ucapkanlah:
لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ
وَحْدَهُ
“Tiada
tuhan yang berhak disembah, melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada
tuhan yang berhak disembah melainkan Allah sahaja, tidak ada satupun sekutu
bagiNya, bagiNya segala kekuasaan dan bagiNya segala puji. Di atas segala
sesuatu, Dia Maha Berkuasa. Tiada tuhan yang wajib disembah melainkan Dia
sahaja. Yang menunaikan janjinya, menolong hambaNya dan mengalahkan golongan
orang-orang kafir”. (H/R Nasaii, al-Baihaqi, Ahmad, Ibnu Majah)
Tiada
doa-doa khusus semasa melakukan sa’i antara Bukit Safa menuju ke Bukit Marwah,
boleh berdoa dengan apa sahaja doa yang disukai, terutama doa yang warid dari
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Apabila turun ke bawah dan sampai ke
tempat bertanda hijau (yang telah diberi tanda oleh kerajaan Saudi Arabia), maka
hendaklah berlari-lari anak sehingga keakhir tanda hijau.
Ketika
sampai ke Bukit Marwah, lakukanlah sebagaimana dilakukan sewaktu di Bukit Safa.
Sa’i yang dilakukan antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali dan
berakhir di Bukit Marwah.
Setelah
selesai sa’i, wajiblah bertahalul (التَّحَلُّل). Bagi kaum lelaki lebih afdal
(utama) membotakkan kepalanya, boleh juga memendekkannya. Namun tidak ada dalil
dari hadis-hadis yang sahih bagi kaum lelaki yang hanya menggunting beberapa
helai sahaja dari rambutnya. Bagi kaum wanita memadai menggunting beberapa
helai sahaja dari rambutnya. Setelah selesai tahalul, maka dihalalkan segala
yang diharamkan semasa berihram.
MANASIK HAJI
Haji
yang paling utama adalah tamattu’ walaupun ada haji ifrad dan haji qiran.
Tamattu’ ialah umrah dahulu dan bertahalul, kemudian berihram di Mekah untuk
haji pada tarikh 8hb Zulhijjah di hari Tarwiyah. Tahalul adalah pembatal bagi
haji ifrad atau qiran.
Rasulullah
salllallahu ‘alaihi wa-sallam telah memerintahkan para sahabat yang berniat
ifrad dan qiran agar melakukan haji tamattu’. Haji tamattu’ ialah bertahalul
antara umrah dan haji. Haji tamattu’ lebih utama jika dibandingkan dengan haji
qiaran yang membawa hadyu, kerana Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam sendiri
mengucapkan: “(Alangkah baiknya) jika aku tidak membawa hadyu”. Malah baginda
memerintahkan agar menukar kepada tamattu’ kerana mereka tidak membawa binatang
korban. Sebagaimana sabda baginda kepada para sahabat yang tidak membawa
binatang korban:
فَمَنْ
كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً
“Maka
barangsiapa antara kamu yang tidak membawa hadyu (binatang korban), maka
hendaklah dia bertahalul dan jadikanlah sebagai umrah”. (H/R Muslim. 4/40)
Setelah
diperintahkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam agar bertahalul,
maka para sahabat mentaati perintah baginda, sebagaimana keterangan dari Jabir
bin Abdullah radiallahu ‘anhu:
فَحَلَّ
النَّاسُ كُلُّهُمْ وَقَصَّرُوْا إِلاَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ
“Maka
mereka semuanya bertahalul dan memendekkan rambut mereka, kecuali Nabi
sallallahu ‘alaihi wa-sallam, serta para sahabat yang membawa hadyu (binatang
korban)”. (H/R Muslim. 4/41)
BERIHRAM DIHARI TARWIYAH
Hari
yang jatuh pada tarikh 8hb. Zulhijjah dinamakan hari Tarwiyah. Pada hari
tersebut, diwajibkan berniat dan berihram (memakai ihram) untuk menunaikan haji
dari tempat tinggalnya iaitu di Mekah dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ حَجًّا
Atau
لَبَّيْكَ
حَجًّا
Selepas
itu terus bertalbiyah. Dan pada hari yang sama (8hb. Zulhijjah) sebelum Zohor
baginda sallallahu ‘alaihi wa-sallam berangkat ke Mina untuk mabit (tidur dan
bermalam) di Mina. Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam solat Zohor, Asar,
Maghrib, Isya’ dan Subuh di Mina. Solat Zohor, Asar dan Isya’ diqasar tetapi
tidak dijamak.
Sesiapa
yang bersolat tamam (sempurna) atau qasar tetapi dijamak adalah menyalahi
sunnah. Mabit di Mina adalah wajib hukumnya.
BERANGKAT UNTUK WUQUF DI
ARAFAH
Selepas
menunaikan solat Subuh dan setelah matahari terbit, baginda sallallahu ‘alaihi
wa-sallam berangkat ke Arafah untuk wuquf. Dalam perjalanan ke Arafah,
sebahagian sahabat bertalbiyah, sedangkan yang bertakbir, sebagaimana terdapat
dalam hadis Anas radiallahu ‘anhu dalam sahih al-Bukhari dan sahih Muslim.
(Lihat: Hajjatun Nabi saw. Penjelasan 58 (keterangan 52). Al-Albani)
Wuquf
dimulai setelah tergelincir matahari, berakhir sehingga sebelum terbit fajar
pada malam Idel Adha sebagaimana yang disepakati oleh semua ulama. (Fatwa-Fatwa
Haji & Umrah. Ibn Bazz) Jika seseorang tidak memungkinkan (tidak sempat)
untuk wuquf pada siang hari, kemudian dia wuquf di malam hari, maka yang
demikian sudah memadai baginya walaupun dia hanya sempat wuquf hanya beberapa
minit sahaja. (Lihat: Fatwa-Fatwa Haji & Umrah. Ibn Bazz) Namun yang afdal
ialah wuquf disiang hari. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
اَلْحَجُّ
عَرَفَةُ ، فَمَنْ أَدْرَكَ عَرَفَةَ بِلَيْلٍ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ فَقَدْ
أَدْرَكَ الْحَجَّ
“Haji
itu adalah wuquf di Arafah, maka sesiapa yang mendapati Arafah pada malam hari
sebelum terbit fajar, sesungguhnya dia telah mendaptkan haji”. (H/R Ahmad, Abu
Daud, Tirmizi, An-Nasaii dan Ibnu Majah)
Seluruh
padang Arafah adalah tempat berwuquf, sebagaimana sabada Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa-sallam:
“Aku
wuquf di sini (Arafah) dan seluruh Arafah adalah tempat wuquf”. (H/R Abu Daud,
Nasaii, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi dan Ibnu Jarud)
Tidak
boleh meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam bagi orang yang melakukan
wuquf pada siang hari. Jika ia melakukan demikian (meninggalkan Arafah sebelum
matahari terbenam pent.), maka menurut jumhur ulama, dia wajib menyembelih
korban kerana meninggalkan kewajiban haji, iaitu wuquf di Arafah antrara malam
dan siang bagi orang yang wuquf disiang hari. (Lihat: Fatwa-Fatwa Haji &
Umrah. Ibn Bazz.)
Hendaklah
mengerjakan solat Zohor dan solat Asar dengan cara qasar serta jamak taqdim di
Arafah. Dan antara perkara-perkara yang dilakukan di Arafah:
1
- Mendengarkan khutbah Arafah.
2
- Meneruskan talbiyah.
3
- Memperbanyakkan doa sambil menghadap Kiblat dan mengangkat tangan. Kerana
Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berzikir
pada hari Arafah sehingga matahari terbenam, iaitu setelah solat Zohor dan
Asar. (Lihat: Fatawa-Fatawa Haji & Umrah. Ibn Bazz)
4
- Berzikir atau juga membaca al-Quran.
Terdapat
jamaah yang berdoa dengan mengangkat suara nyaring, beramai-ramai dan
menggunakan pembesar suara, perbuatan seperti ini bertentangan dengan syara,
yang mana Allah Azza wa-Jalla telah melarang perbuatan seperti itu di dalam
berfirmanNya:
ادْعُوْا
رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
“Berdoalah
kepada Rabbmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampui batas”. (Al-A’raf, 55)
وَاذْكُرْ
رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ
“Dan
sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan
tidak mengeraskan suara”. (Al-A’raf, 205)
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam juga bersabda:
قَالَ
أَبُوْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : رَفَعَ النَّاسُ أَصْوَاتَهُمْ
بِالدُّعَاءِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّهَا النَّاسُ
إِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسَكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا
إِنَّ الَّذِيْ تَدْعُوْنَهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ
رَاحِلَتِهِ
“Berkata
Abu Musa al-Asy’ari radiallahu ‘anhu: Manusia mengeraskan suara mereka semasa
berdoa, maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Wahai manusia,
perlahankanlah suara kamu, sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan
ghaib! Sesungguhnya zat yang kamu berdoa kepadaNya adalah Maha Mendengar lagi
Mahadekat lebih dekat kepada seseorang antara kamu dari leher untanya
(tunggangannya)”. (H/R Bukhari dan Muslim)
Dan
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah menjelaskan tentang kemuliaan dan
kelebihan hari Arafah:
مَا
مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ
يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُوْ ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُوْلُ
: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Tidak
ada satu haripun, dimana hamba Allah lebih ramai dibebaskan dari api neraka
daripada hari Arafah. Bahawa Allah Subhanahu wa-Ta’ala dekat kepada mereka,
lalu berbangga dengan mereka Malaikat-malaikatNya dan berkata: Alangkah
mulianya keinginan mereka”. (H/R Muslim)
أُنْظُرُوْا
إِلَى عِبَادِيْ أَتُوْنِيْ شُعْتًا غُبْرًا. يَرْجُوْنَ رَحْمَتِيْ أُشْهِدُكُمْ أَنِّيْ
قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
“(Allah
berfirman kepada para Malaikat): Lihatlah hamba-hambaKu! Mereka datang kepadaKu
dengan rambut kusut dan berdebu, kerana mengharapkan rahmatKu. Maka Aku
bersaksi kepadamu, bahawa Aku telah mengampunkan mereka”. (H/R Ahmad dan
At-Tabrani)
Malangnya,
ada dari kalangan jamaah yang melakukan perkara-perkara yang mungkar, iaitu
mereka pergi mencari-cari barakah dengan cara yang bid’ah dan syirik semasa
wuquf di Arafah, antaranya pergi ke Jabal (gunung) Rahmah. Ingatlah! Sesiapa
yang pergi ke Jabal Rahmah sama ada kerana mengutamakan wuquf, berdoa di Jabal
Rahmah atau untuk mendapatkan barakah, maka perbuatan tersebut adalah perbuatan
bid’ah yang sesat, sewajarnya dijauhi dan ditinggalkan oleh mereka yang ingin
memperolehi haji yang mabrur. Setelah matahari terbenam, berangkat dari Arafah
menuju ke Muzdalifah.
Begitu
juga, terdapat para jamaah haji yang naik dan mencari-cari masjid di Jabal
Rahmah untuk solat dua rakaat selain untuk berdoa dan mencari barakah,
perbuatan seperti itu adalah bid’ah yang boleh membawa kepada kesyirikan.
Perbuatan yang bid’ah ini dijelaskan oleh Ibn Bazz rahimahullah:
توجه
الناس الى هذه المساجد ، وتمسحهم بجدرانها ومهاربها والتبرك بها بدعة ، ونوع من أنواع
الشرك شبيه بعمل الكفار فى الجاهلية الأولى بأصنامهم
“Pemergian
manusia kepada masjid-masjid (di Jabal Rahmah), menyapu dindingnya dan
mihrabnya (dengan tangannya) untuk mendapat barakah adalah suatu yang bid’ah,
termasuk jenis dari jenis-jenis syirik menyerupai amalan orang-orang kafir
dimasa jahiliyah dahulu kala terhadap berhala-berhala mereka”. (Lihat: Fatawa
Tata’allaq Biahkamil Hajj wal-Umrah wa-Ziarah. Syeikh Abdulaziz bin Bazz)
Diperintah
agar bertenang (tidak terburu-buru ketika berangkat menuju ke Muzdalifah
sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:
أَيُّهَا
النَّاسُ ! اَلسَّكِيْنَةُ ، اَلسَّكِيْنَةُ
“Wahai
manusia, tenanglah kamu, tenanglah kamu!”. (H/R Nasaii)
Hadis
di atas memerintahkan agar jamaah haji bertenang ketika berangkat ke
Muzdalifah, kerana mengikut sunnah tidak boleh terburu-buru, iaitu tidak
berasak-asak (berdesak-desak). (Begitulah penjelasan Imam an-Nawawi dalam
Syarah Muslim) Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam berangkat ke Muzdalifah
setelah terbenamnya matahari dan tidak berangkat sebelum waktu Maghrib (baginda
tidak berangkat selepas Asar) sebagaimana yang banyak dilakukan oleh jamaah
sekarang. Dalam perjalanan ke Muzdalifah, baginda terus bertalbiyah tanpa
putus. (Lihat: Sahih al-Bukhari dan Muslim)
BERMALAM (MABIT) DI
MUZDALIFAH
Mabit
(bermalam) di Muzdalifah adalah wajib, kecuali bagi orang-orang yang lemah
(Lihat: Fatwa-Fatwa Haji & Umrah. Ibn Bazz) seperti wanita, orang sakit
atau orang yang uzur. Boleh mabit (bermalam) di mana-mana sahaja di seluruh
kawasan Muzdalifah, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
وَقَفْتُ
هَاهُنَا ، وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقَفٌ
“Dan
saya wuquf (berhenti/bermalam) di sini (Muzdalifah), dan semua kawasan
Muzdalifah adalah tempat wuquf (bermalam/berhenti). (H/R Abu Daud, An-Nasaii,
Ad-Darimi dan selain mereka)
Adapun
orang yang meninggalkan mabit di Muzdalifah tanpa alasan syarie, maka wajib
baginya membayar dam (menyembelih binatang korban). Dari Ibnu Abbas berkata:
مَنْ
تَرَكَ نُسُكًا أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُهْرِقْ دَمًا
“Barangsiapa
meninggalkan suatu ibadah (dalam ibadah haji) atau terlupa salah satu darinya,
maka dia hendaklah menyembelih kurban”. (H/R Malik)
Setelah
tiba di Muzdalifah baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan para
sahabat menunaikan solat Maghrib yang dijamak dengan solat Isya’, dilakukan
dengan cara jamak takhir, dengan cara sekali azan dan dua kali iqamah. (Lihat:
Penjelasan lanjut dalam Nash Ar-Rayah. 3/69-70)
Kemudian
baginda tidur (mabit) tanpa menunaikan solat qiyamullail (solat malam)
sampailah kewaktu Subuh. Baginda solat Subuh di Muzdalifah dan bersabda:
مَنْ
شَهِدَ صَلاَتَنَا هَذِهِ ، وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ ، وَقَدْ وَقَفَ قَبْلَ
ذَلِكَ بِعَرَفَةَ لَيْلاً أَوْنَهَارًا ، فَقَدْ تَمَّ حَجَّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ
“Barangsiapa
menyaksikan solat kami ini, wuquf (berhenti di Muzdalifah) bersama kami
sehingga kami berangkat (ke Mina) dan dia telah wuquf sebelum ini di Arafah
pada malam atau siangnya, maka telah sempurna hajinya dan menghilangkan
kotorannya”. (H/R Tirmizi, Ibnu Majah dan lainnya)
Baginda
tidak juga menunaikan solat rawatib Isya’. Tidak disyariatkan mencari (memilih)
batu di Muzdalifah, kerana untuk melontar boleh mengambil batu jamrah walaupun
di Mina. Begitu juga tidak ada dalil yang memerintahkan agar batu jamrah
dibasuh terlebih dahulu, kerana perbuatan seperti itu adalah suatu bid’ah yang
sesat.
MASY’ARIL HARAM
Setelah
menunaikan solat Subuh, baginda terus berada (wuquf) di Masy’aril Haram.
Masy’aril Haram adalah satu kawasan di Muzdalifah. Dan menurut jumhur ahli
tafsir, sejarawan dan ahli hadis, bahawa Masy’aril Haram adalah seluruh kawasan
Muzdalifah, demikian menurut pendapat Imam an-Nawawi rahimahullah. (Lihat:
Hajjatun Nabi saw. Al-Albani)
Baginda
wuquf di Masy’aril Haram sambil menghadapkan dirinya ke Kiblat, mengangkat
tangan dan berdoa dan memuji Allah (H/R Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Jarud dan
Baihaqi) dengan doa:
اَلْحَمْدُ
للهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ، وَلاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Baginda
terus wuquf di Masy’aril Haram sehingga fajar terbit di ufuq Timur, (Lihat:
Hajjatun Nabi saw Al-Albani) kemudian berangkat ke Mina sebelum matahari
terbit. (H/R Abu Daud, Tirmizi, Baihaqi, Ahmad. Lihat: Hajjatun Nabi saw.
Al-Albani)
MELONTAR DI MINA & CARA
MELONTAR
Waktu
mula dibolehkan melontar Jamrah Kubara atau Jamrah Aqabah ialah sejak terbit
matahari sehinggalah kewaktu malam. Namun baginda mula melontar Jamrah Aqabah
setelah matahari terbit (waktu Duha). (H/R Ibnu Majah, Abu Daud, Nasaii, Tirmizi,
Baihaqi, At-Tahawi (syarah al-Ma’ani). Ad-Duruqutni dan Ahmad)
Tiada
hujjah yang membolehkan melontar sebelum matahari terbit walaupun bagi mereka
yang lemah atau wanita, berdasarkan hadis Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu:
“Bahawa
Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam memerintahkan isteri-isterinya agar lebih
dahulu pergi ke Mina, namun melarang mereka melontar jamrah sebelum matahari
terbit”. ((1) Tirmizi dan Ibnu Hibban mensahihkan hadis ini. (2). Ibnu Hajar
menghasankannya. Lihat: Fathul Bari 3/422)
Menurut
Nasruddin al-Albani: Dalam hal ini, tidak sewajarnya menentang hadis riwayat
Bukhari, bahawa Asma binti Abu Bakr melontar jamrah kemudian solat Subuh, ini
terjadi setelah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam wafat. Di sini tidak
jelas apakah Asma melakukannya berdasarkan keizinan Nabi sallallahu ‘alaihi
wa-sallam selain kerana keberangkatannya ke Mina sesudah tengah malam. Yang
jelas menurut Asma, bahawa Nabi mengizinkannya meninggalkan Muzdalifah,
sehingga memungkinkan Asma memahami keizinan tersebut meliputi keizinan untuk
melontar pada malam hari. Sedangkan larangan Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam
yang dihafal oleh Ibnu Abbas tidak sampai kepada Asma radiallahu ‘anha. (Lihat:
Hajjatun Nabi (dalam perkara melontar Jamrah Kubra) Al-Albani)
Melontar
hanyalah dengan tujuh ketul batu-batu kecil kerana baginda bersabda:
“(Melontar)
dengan batu-batu kerikil, diletakkan di antara kedua jari”. (H/R Abu Daud,
Nasaii, Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad yang sahih)
Setiap
kali melontar hendaklah bertakbir dengan mengucapkan:
أَللهُ
أَكْبَرُ
Setelah
selesai melontar Jamrah Aqabah, maka halallah semua yang sebelumnya diharamkan
walaupun belum mencukur rambut, kecuali bersetubuh yang hanya dihalalkan
setelah selesai tawaf ifadah, (Setelah tawaf ifadah dihalalkan apa yang
sebelumnya diharamkan ketika ihram, sebagaimana terdapat dalam Sahih Bukhari
dan Muslim, hadis dari ‘Aisyah dan Ibnu Umar) iaitu berdasarkan hadis ‘Aisyah
radiallahu ‘anha:
“Saya
memakaikan wangi-wangian kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam ketika
halal dan ketika akan ihram, juga setelah melontar Jamrah Aqabah pada hari
Nahar sebelum tawaf ifadah”. (H/R Ahmad dengan sanad yang sahih menurut syarat
Bukhari dan Muslim)
Demikianlah
juga pendapat Ata’, Malik, Abu Thaur dan Abu Yusuf. (Riwayat Ahmad. Lihat:
Al-Mughni 3/439. Ibn Qudamah)
AMALAN-AMALAN DI HARI NAHAR
Pada
hari Nahar iaitu 10hb. Zulhijjah, para jamaah haji hendaklah melakukan
perkara-perkara tersebut (Inilah pendapat yang rajih dari Imam an-Nawawi dan
mazhab Syafi’iyah):
Melontar
Jamrah Aqabah dengan tujuh ketul batu-batu kerikil yang kecil setelah matahari
terbit. Baginda telah bersabda:
لاَ
تَرْمُوْا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلَعَ الشَّمْسُ
“Janganlah
kamu melontar sehinggalah matahari terbit”. (H/R Ahmad dan selain darinya)
Masih
boleh juga melontar walaupun sampai ke petang hari, bahkan pada malam hari
(Lihat:Al-Muhalla. Ibnu Hazm. Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan
selainnya) juga dibolehkan. Adapun bagi mereka yang berhalangan kerana uzur
atau lemah, maka dibolehkan melontar pada waktu sebelum terbit matahari, iaitu
berdasarkan hadis Ummu Salamah radiallahu ‘anha:
أَنَّهَا
رَمَتِ الْجَمْرَةَ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Bahawa
dia melontar jamrah sebelum terbit fajar”. (H/R Abu Daud)
Adapun
antara perbuatan yang wajib ditinggalkan kerana tidak ada dalilnya dalam syara
ialah amalan jamaah haji yang membaca doa selepas melontar dengan doa yang
diambil dari hadis berikut:
كَانَ
يَرْمِيْ الْجُمْرَةَ فِى هَذَا الْمَكَانِ وَيَقُوْلُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ :
اَللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّأ مَبْرُوْرًا ، وَذَنْبًا
مَغْفُوْرًا ، وَعَمْلاً مَشْكُوْرًا
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam melontar jamrah di tempat ini dan mengucapkan pada
setiap lontaran: Allahu Akbar, Allahu Akbar. Ya Allah, jadikanlah ibadah haji
yang mabrur, dosa yang terampun dan amalan yang disyukuri!”.
Mengkhususkan
doa dengan membaca doa ini adalah perbuatan yang bid’ah, kerana ini adalah
hadis lemah. Hadis dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Sunannya 5/129. Dan
Al-khatib dalam Talkhisul Mutasyabih 11/11. (Lihat: سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة
No. 1107. Al-Albani) Begitu juga Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam tidak pernah
membaca doa tersebut setelah melontar jamrah.
Menyembelih
binatang korban yang sihat (gemuk). Disunnahkan memakan dagingnya kerana
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
“Maka
makanlah dan ambillah dagingnya sebagai bekal. Jabir berkata: Maka kami makan
dan mengambilnya sebagai bekal sehingga kami tiba di Madinah”. (H/R Ahmad)
Dianjurkan
juga menyembelih pada hari-hari Tasyriq. Dibolehkan menyembelih binatang korban
di seluruh kawasan Mina, iaitu berdasarkan hadis:
قَدْ
نَحَرْتُ هَهُنَا ، وَمِنَى كَلُّهَا مَنْحَرْ
“Aku
menyembelih korban di sini Mina), dan seluruh Mina adalah tempat menyembelih
(penyembelihan)”. (H/R Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tahawi, Al-Hakim dan
Baihaqi. Lihat: Hajjatun Nabi saw No. 100. Albani)
Dibolehkan
juga menyembelih di kawasan Mekah, (Lihat: Hajjatun Nabi saw. (Penjelasan hadis
No. 101)) kerana hadis al-Baihaqi bahawa Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu
menyembelih di Mekah, (Lihat hadis riwayat Al-Baihaqi 5/239) iaitu berdasarkan
hadis:
وَكُلُّ
فجاجِ مَكَّةَ طَرِيْقٌ وَمَنْحَرٌ
“Dan
setiap ceruk di Mekah adalah jalan dan tempat penyembelihan”. (H/R Abu Daud,
Ahmad, At-Tahawi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Dibolehkan
tawaf sebelum menyembelih sebagaimana hadis dari Jabir radiallahu ‘anhu, iaitu
apabila Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam ditanya:
“Orang
yang lain bertanya: Apakah dibenarkan kalau saya tawaf sebelum menyembelih
korban? Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam menjawab: Sembelihlah tidak mengapa”.
(H/R At-Tahawi. Lihat: Hajjatun Nabi saw. No. 98. Albani)
Dan
dibolehkan juga menyembelih sebelum melontar berdasarkan hadis dari Jabir
radiallahu ‘anhu, iaitu:
“Lalu
datang lagi yang lain dan berkata: Sesungguhnya saya telah menyembelih sebelum
melontar jamrah, apakah dibenarkan? Baginda menjawab: Melontarlah tidak
mengapa”. (H/R Ad-Darimi, Ibnu Majah, At-Tahawi, Ibnu Hibban, At-Thayalisi dan
Ahmad. Lihat: Hajjatun Nabi saw. No. 99. Albani)
Dan
dibolehkan juga tawaf ifadhah sebelum melontar, sebagaimana hadis:
سَأَلَ
رَجُلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ : طُفْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيْ
. قَالَ : لاَ خَرَجَ
“Seorang
lelaki bertanya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan dia berkata: Saya
tawaf (tawaf ifadhah) sebelum melontar? Maka baginda menjawab: Tidak mengapa”.
(H/R Ad-Darimi dan Ibnu Hibban)
Memotong,
mencukur atau membotakkan (yang afdal ialah membotakkan) seluruh rambut di
bahagian kepala bagi kaum lelaki, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wa-sallam mendoakan dengan keampunan dan rahmat Allah kepada orang-orang yang
bercukur sebanyak tujuh kali, dan hanya sekali kepada orang yang memendekkan rambutnya.
Memadai
memotong hanya beberapa helai rambut bagi kaum wanita.
Dibolehkan
memotong, menggunting atau mencukur rambut sebelum menyembelih korban iaitu
berdasarkan hadis:
كَانَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنَى
فَيَقُوْل : لاَ حَرَجَ فَسَألَهُ رَجُلٌ فَقَالَ : حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ
قَالَ : إِذْبَحْ وَلاَ حَرَجَ فَقَالَ : رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ فَقَالَ
: لاَحَرَجَ
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah ditanya pada hari Nahar di Mina, maka
baginda bersabda: Tidak mengapa. Lalu seseorang bertanya kepadanya seraya
berkata: Saya bercukur sebelum menyembelih korban? Maka baginda menjawab:
Sembelihlah, dan tidak mengapa. Lalu seseorang berkata: Saya melontar setelah
petang? Maka Nabi bersabda: Tidak mengapa”. (H/R Bukhari)
Dan
dibolehkan bercukur sebelum melontar, iaitu berdasarkan hadis dari Jabir
radiallahu ‘anhu, bahawa apabila Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam
ditanya:
“Apakah
dibenarkan jika bercukur sebelum melontar? Baginda menjawab: Tidak mengapa”.
(Lihat: Hajjatun Nabi saw. No. 96. Muhammad Nasrhiuddin al-Albani)
Dan
setelah selesai melontar dan memotong rambut (bercukur), dihalalkan semua
perkara yang sebelumnya diharamkan, kecuali bersetubuh, iaitu berdasarkan hadis:
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْه
وَسَلَّمَ : إِذَا رَمَيْتُمْ وَحَلَقْتُمْ فَقَدْ حَلَّ لَكُمُ الطِّيْبُ وَكُلُّ
شَيْءٍ إِلاَّ النِّسَاءُ
“Dari
‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata: Telah bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wa-sallam: Apabila kamu telah melontar jamrah dan telah bercukur (memotong
rambut), maka dihalalkan bagi kamu wangi-wangian dan segala sesuatu kecuali
wanita (bersetubuh)”. (H/R Abu Daud)
Tawaf
haji atau tawaf ifadah. Semasa mengerjakan tawaf ifadah tidak disunnahkan
berjalan cepat.
Dibolehkan
tawaf sebelum melontar, berdasarkan hadis dari Jabir radiallahu ‘anhu, iaitu
apabila Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam ditanya:
سَأَلَ
رَجُلُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ : طُفْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ
قَالَ : لاَ حَرَجَ
“Seorang
lelaki bertanya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Saya tawaf sebelum
saya melontar? Baginda menjawab: Tidak mengapa”. (H/R Ad-Darimi dan Ibnu
Hibban. Lihat: Hajjatun Nabi saw. No.96. Muhammad Nasruddin al-Albani)
Bagi
yang mengerjakan haji tamattu’, diwajibkan untuk sa’i sekali lagi setelah
selesai tawaf ifadah. Setelah tawaf ifadah dihalalkan semuanya termasuklah
bersetubuh walaupun belum melontar, menyembelih binatang dan mecukur rambut.
MELONTAR JAMRAH & HARI
TASYRIQ
Melontar
yang pertama ialah pada hari Ied (Hari Raya), iaitu melontar Jamrah Aqabah.
Waktu melontar bermula dari waktu Duha sehinggalah terbenam matahari pada hari
Ied, iaitu berakhir pada terbitnya fajar. Melontar hendaklah dengan tujuh kali
lontaran dengan membaca takbir di setiap lontaran.
Hari
tasyriq ialah hari yang diwajibkan mabit (bermalam) di Mina, iaitu pada tanggal
11hb - 12hb dan 13hb Zulhijjah. Sekurang-kurang bermalam selama dua hari iaitu
11hb dan 12hb Zulhijjah supaya dapat melontar Jamratul Ula, Jamratul Wusta
(Saniyah) dan Jamratul Kubra (Jamratul Aqabah).
Adapun
melontar pada hari-hari tasyrik adalah dilakukan setelah matahari tergelincir
(setelah Zohor) tidak boleh dilakukan sebelum Zohor, kerana Nabi sallallahu
‘alaihi wa-sallam melontar setelah Zohor sehingga mentakhirkan (melewatkan)
solat Zohornya. Baginda bersabda:
لاَ
تَرْمُوْا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسَ
“Janganlah
kamu melontar sehinggalah matahari terbit”. (H/R Ahmad dan selainnya)
Ketika
melontar di setiap jamrah, hendaklah melontar dengan tujuh kali lontaran dengan
batul-batu kecil. (Menurut Imam an-Nawawi: Iaitu sebesar biji kacang, agar
lebih besar atau lebih kecil. Akan tetapi jika tidak memperolehi batu kecil
maka tetap diperbolehkan (yang lebih besar). Lihat: Hajjatun Nabi. Al-Albani)
Disyariatkan supaya melontar secara berurutan, iaitu dimulakan dari Ula yang
berdekatan dengan Masjid Khaif, kemudian Wusta dan yang terakhir Aqabah.
(Inilah pendapat An-Nawawi. Lihat: Hajjatun Nabi saw. Al-Albani) Dan disertakan
dengan takbir disetiap kali melontar.
Disunnahkan
berdo’a dengan menghadapkan diri ke Kiblah setiap kali selesai melontar di
Jamrah Ula (di Jamrah Ula, disunnahkan berdoa di sebelah kanan tempat
melontar). Kemudian melontar di Jamrah Wusta (di Jamrah Wusta, disunnahkan
berdiri di sebelah kiri tempat melontar, menghadap kiblah dan berdoa panjang),
kecuali setelah melontar di Jamrah Kubra teruskan berdoa walaupun tidak
menghadap ke Kiblah. Menurut Imam Syafie dan Ibnu Hazm:
“Tiada
larangan untuk melontar dengan batu-batu yang telah digunakan untuk melontar,
kerana tidak ada dalil melarangnya”. (Lihat: Hajjtun Nabi. Al-Albani)
Sekali
diingatkan, bahawa dihari Tasyriq, melontar hendaklah dilakukan setelah
matahari tergelincir (setelah waktu Zohor) sehinggalah kewaktu malam. Iaitu
berdasarkan hadis dari Jabir radiallahu ‘anhu:
رَمَى
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى ، وَرَمَى
بَعْدَ ذَلِكَ بَعْدَ الزَّوَالِ
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam melontar pada hari Nahar pada waktu Duha, baginda
melontar selepas itu (hari-hari tasyriq) ketika matahari telah tergelincir
(setelah Zohor)”. (H/R Muslim)
كُنَّا
نَتَحَيَّنُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ رَمَيْنَا
“Adalah
kami menunggu-nunggu waktu melontar, maka apabila matahari tergelincir (Zohor)
kami melontar”. (H/R Bukhari)
فَسَأَلَ
رَجُلٌ : رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ ، فَقَالَ : لاَ حَرَجَ
“Seorang
lelaki bertanya: Saya melontar setelah waktu petang, baginda menjawab: Tidak
mengapa”. (H/R Bukhari)
Dibolehkan
bermalam dua malam sahaja di Mina, kemudian pulang ke Mekah sebelum terbenam
matahari pada malam 13 Zulhijjah setelah melontar jamrah. Amalan ini dinamakan
Nafar Awal dan telah menyempurnakan hajinya. Perbuatan ini diizinkan kerana
Allah Subhanahu wa-Ta’ala berfirman:
فَمَنْ
تَعَجَّلَ فِى يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa
yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa
baginya”. (Al-Baqarah, 203)
Bagi
Jamaah yang bermalam sehingga tiga malam dan melontar pada tiga hari (hari ke13
Dzulhijjah) pula dinamakan Nafar Thani.
Dan
sesiapa yang pulang ke Mekah pada hari ke 11 Dzulhijjah, bererti dia telah
mengurangi jumlah melontarnya yang wajib dilakukan pada hari ke12 Dzulhijjah.
Oleh itu wajib baginya menyembelih korban di Mekah untuk orang-orang miskin,
bertaubat dan beristighfar kerana pulang ke Mekah sebelum waktunya.
TAWAF WADA’ (TAWAF
PERPISAHAN)
Sebelum
meninggalkan Mekah untuk berangkat pulang ke tanah air, maka wajib tawaf wada’
terlebih dahulu, kecuali wanita yang haid atau nifas dibolehkan meninggalkan
Mekah tanpa tawaf wada’. (Lihat: H/R Bukhari 2/195. Dan Muslim 4/93) Antara
hadis-hadis sahih yang menunjukkan wajibnya tawaf wada’ (perpisahan) ialah:
لاَيَنْفِرَنَّ
أَحَدٌ مِنْكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ
“Janganlah
seseorang antara kamu pulang melainkan akhir yang dilakukannya adalah tawaf di
Baitullah”. (H/R Muslim)
أُمِرَ
النَّاسُ أَنْ يَكُوْنَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ
الْحَائِضِ
“Telah
diperintahkan (oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam) agar manusia (yang
menunaikan haji) supaya akhir yang dilakukannya adalah tawaf di Baitullah.
Namun baginda memberi keringanan kepada wanita yang haid”. (H/R Bukhari dan
Muslim)
Dari
‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata:
“Kami
menemui Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam di khemahnya dimalam hari, lalu
bersabda: Apakah kamu sudah siap? Jawabku Ya! Lalu baginda mengizinkan para
sahabat berangkat, maka baginda keluar menuju Baitullah dan tawaf (wada’)
sebelum solat Subuh, kemudian berangkat pulang ke Madinah”. (H/R Bukhari dan
Muslim)
Ibnu
Umar radiallahu ‘anhum berkata:
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam tidak berjalan cepat pada tawaf wada’ dan begitu
juga pada tawaf ifadah”. (H/R Bukhari dan Muslim)
MENUNAIKAN HAJI TANPA
BERSAMA MAHRAM
Seorang
wanita tidak boleh pergi menunaikan haji kecuali bersama suaminya atau diiringi
oleh mahramnya. Kerana terdapat larangan dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi
wa-sallam sebagaimana hadis baginda:
لاَ
يُحِلُّ لإِمْرَأَةٍ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَع ذِيْ مَحْرَمٍ
“Tidak
halal bagi wanita berpergian (belayar/musafir) dalam perjalanan sehari semalam,
melainkan bersama mahramnya”. (H/R Bukhari)
لاَ
يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ ، وَلاَ تُسَافِرُ
الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Tidak
boleh seorang lelaki berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita. Dan
janganlah wanita berpergian (belayar/musafir), melainkan bersama mahramnya”.
(H/R Bukhari dan Muslim)
لاَ
تَسَافِرُ امْرَأَةٌ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Wanita
tidak boleh berpergian, kecuali bersama mahramnya”. (H/R Bukhari & Muslim)
Larangan
musafir bagi wanita di hadis ini adalah umum, termasuklah dalam larangan
tersebut ialah musafir untuk menunaikan haji. Hadis-hadis di atas ini diperkuat
lagi dengan hadis tentang seorang sahabat yang dibatalkan oleh baginda untuk
berperang kerana wajibnya menemani isterinya menunaikan haji. Yang mana dia
berkata kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Wahai Rasulullah,
sesungguhnya isteriku menunaikan haji dan aku berkewajipan dalam berperang
serta demikian dan demikian! Maka baginda bersabda:
فَانْطَلِقْ
، فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Maka
pergilah kamu, dan tunaikanlah haji bersama isterimu”. (H/R Bukhari dan Muslim)
Hadis
ini sebagai dalil yang menunjukkan bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wa-sallam melarang wanita berpergian walaupun untuk menunaikan haji jika tanpa
ada mahram bersamanya. Wallahu ‘alam.
MENZIARAHI MADINAH
Ziarah
ke Madinah tidak wajib dan tidak termasuk dalam rukun atau syarat sahnya haji
atau umrah. Tetapi niatkan menziarahi Madinah kerana Masjid Nabawi, kerana
itulah yang sewajarnya yang diutamakan apabila ke Madinah. Kerana terdapat
hadis-hadis sahih yang menjelaskan tentang kemuliaan masjid Nabi sallallahu
‘alaihi wa-sallam di Madinah sehingga dituntut agar rehlah (berpergian) ke sana
sebagaimana baginda bersabda:
لاَ
تَشُدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدِ : اَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ
هَذَا ، وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى
“Janganlah
kamu melakukan rehlah (perjalanan), kecuali kepada tiga masjid: Masjid
al-Haram, masjidku ini dan masjid al-Aqsa”. (H/R Bukhari, Muslim, Abu Daud,
An-Nasaii, Ibnu Majah dan Ahmad)
صَلاَةٌ
فِى مَسْجِدِيْ هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ
الْحَرَامَ ، وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامَ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ
فِى مَسْجِدِيْ هَذَا
“Solat
di masjidku ini lebih baik daripada solat di masjid lainnya, kecuali Masjid
al-Haram. Dan solat di Masjid al-Haram lebih utama seratus kali solat di
masjidku ini”. (H/R Ahmad dan Ibnu Hibban dengan sanad yang sahih)
Apabila
menziarahi Masjid Nabawi, maka disyariatkan agar solat dua rakaat di Raudhah,
kemudian mengucapkan salam kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan dua
sahabat baginda, iaitu Abu Bakar dan Umar radiallahu ‘anhuma sebagaimana
disyariatkan ziarah ke Baqi’ serta para syuhada. Disunnahkan memberi salam dan
berdoa:
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ
شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ ، نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Disunnahkan
juga menziarahi masjid Quba dan solat dua rakaat di dalamnya. Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
“Barangsiapa
bersuci (berwuduk) di rumahnya dengan sempurna kemudian datang ke masjid Quba
lalu solat di dalamnya, maka dia seperti umrah”.
Adapun
menziarahi masjid tujuh, masjid kiblatain atau tempat-tempat lainnya tidak
pernah disyariatkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Dan barangsiapa
berniat ke Madinah semata-mata kerana kubur Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam,
maka niat dan perbuatan seperti itu adalah menyalahi syara (bid’ah yang membawa
kepada kesyirikan). Terdapat hadis-hadis lemah, mungkar atau palsu yang
memperkatakan tentang ziarah kubur Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam
secara khusus, antaranya:
مَنْ
زَارَنِيْ بِالْمَدِيْنَةَ مُحْتَسِبًا كُنْتُ لَهُ شَفِيْعًا وَشَهِيْدًا لَهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa
yang menziarahi aku di Madinah dengan penuh keikhlasan, maka aku akan
memberikan syafaat dan menjadi saksi (pembela) kepadanya di hari Kiamat”.
Hadis
ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari jalan Anas bin Malik, tetapi hadis
ini lemah kerana terdapat di dalam sanadnya Sulaiman bin Zaid al-Ka’bi, dia
seorang yang lemah (وهو ضعيف الحديث). Hadis ini dari sanad ‘Amr. Diriwayatkan
oleh Abu Daud at-Tayalisi dari jalan Umar, tetapi di dalam sanad-sanadnya
terdapat orang yang majhul (وفى اسناده مجهول).
مَنْ
حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِيْ فَقَدْ جَفَانِيْ
“Barangsiapa
yang pergi haji ke Baitullah dan tidak ziarah kepadaku, maka dia telah
mengkasariku”.
(1).
Hadis diriwayatkan oleh Imam Daruqutni, beliau berkata: Pada sanad hadis ini
ada kecacatan, iaitu pada Muhammad bin Nu’man bin Syabil al-Bahili dari bapanya,
keduanya (bapa dan anaknya) sangat lemah. Hadis ini adalah hadis lemah, bahkan
hadis palsu atau hadis tipu (مكذوب).
(2).
Hadis diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Di dalam sanadnya terdapat Ibrahim
al-Giffari, dia lemah (وهو ضعيف).
(3).
Menurut imam az-Zahabi rahimahullah, bahawa hadis ini adalah hadis palsu.
Ditegaskan dalam Al-Mizan. 111/237.
(4).
Hadis diriwayatkan oleh al-Baihaqi, beliau berkata: Pada sanadnya terdapat
orang yang tidak dikenali (majhul) (اسناده مجهول).
(5).
Menurut Al-Albani bahawa hadis ini adalah palsu (موضوع). (Lihat: سلسلة الأحَديث
الضعيفة والموضوعة No. 45. Al-Albani)
Hadis
ini dari sanad Abdullah bin ‘Amr, tetapi didapati sangat lemah kerana di dalam
sanadnya terdapat Muhammad bin Nu’man bin Syabil al-Bahili dari ayahnya.
Keduanya (Muhammad bin Nu’man dan ayahnya) sangat lemah sebagaimana dijelaskan
di atas.
مَنْ
زَارَنِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ ، فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِى حَيَاتِيْ
“Barangsiapa
yang menziarahi aku setelah aku meninggal, maka seakan-akan dia menziarahi
ketika aku hidup”.
Hadis
ini diriwayatkan oleh Daruqutni, Abu Ya’la (dalam Musnad) dan Ibnu ‘Adi (dalam
Kamil). Hadis ini lemah kerana dalam sanadnya terdapat Hafsah bin Daud yang
mana dia terlalu lemah dalam hadis. Dan dalam sanad hadis ini terdapat orang
yang majhul.
SOLAT ARBA’IN (SOLAT 40
WAKTU)
Sebahagian
besar jamaah haji, lantaran kejahilan mereka dan gemar beramal sekalipun
ternyata hadis yang dijadikan landasan lemah, palsu, mungkar dan sudah jelas
perbuatan itu bid’ah, mereka masih berusaha dan bersungguh-sungguh agar dapat
menunaikan solat fardu di masjid Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam sebanyak 40
waktu. Sedangkan hadis yang menjadi pegangan mereka (solat 40 waktu) adalah
hadis lemah, iaitu hadis:
مَنْ
صَلَّى فِى مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَيَفُوْتَهُ صَلاَةٌ كُتِبَ لَهُ بَرَاءَ
ةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِىءٌ مِنَ النِّفَاقِ
“Barangsiapa
menunaikan solat di masjidku empat puluh kali solat (40 waktu solat fardu)
dengan tidak tertinggal walau satu solat pun, maka ditetapkan baginya bebas
dari api neraka, selamat dari siksaan dan terbebas dari kemunafikan”.
Hadis
ini diriwayatkan oleh Ahmad 111/115 dan Tabrani dalam al-Mu’jamul Ausat 11/125.
Sanadnya dari Abdur Rahman bin Abi Razaq, dari Nabith bin Amr, dari Anas bin
Malik.
Berkata
al-Albani rahimahullah: Sanad rawi hadis ini lemah, sebab Nabith tidak dikenal
oleh para Muhaddisin (Ahli Hadis) kecuali dalam riwayat ini. (Lihat: سلسلة الأحاديث
الضعيفة والموضوعة No. 364. Al-Albani)
Adapun
hadis yang sahih ialah solat 40 hari, bukan 40 waktu, iaitu hadis:
“Barangsiapa
solat berjamaah selama 40 hari, sempat bertakbiratul ihram (bersama imam), maka
ditetapkan baginya dua kebebasan. Bebas dari api neraka dan bebas dari
kemunafikan”. (Lihat: سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة No. 364. Al-Albani)
APA ITU HAJI AKHBAR?
Semua
pekerjaan haji yang mabit di Mina, wuquf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan
melontar di Mina adalah haji akbar. Tetapi terdapat keyakinan yang mendalam di
kalangan sebahagian besar jamaah haji, iaitu meyakini kebesaran, kemuliaan dan
haji akbar hanya terjadi khusus pada hari Jumaat (wuquf di Arafah yang berlaku
pada hari Jumaat). Mereka yang berkeyakinan seperti itu kerana berpegang kepada
hadis batil iaitu:
أَفْضَلُ
اْلأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ إِذَا وَافَقَا يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، وَهُوَ أَفْضَلُ
مِنْ سَبْعِيْنَ حَجَّةً فِى غَيْرِ جُمُعَةٍ
“Hari
yang paling utama adalah hari Arafah, iaitu apabila bertepatan dengan hari
Jumaat, ia lebih utama daripada tujuh puluh kali haji yang tidak pada hari
Jumaat”.
Menurut
Syeikh al-Albani rahimahullah: Hadis ini adalah hadis batil, tidak ada
sumbernya. Az-Zaila’i berkata dalam Hasyiyati Ibnu Abidin 11/384, diriwayatkan
oleh Razin bin Muawiyah dalam kitab Tajrid as-Sihah. (Lihat: سلسلة الأحاديث الضعيفة
والموضوعة Hadis No. 207. Al-Albani)
Sebenarnya,
semua pekerjaan haji yang semua jamaah wajib wuquf di Arafah, melontar, tawaf,
sa’i dan bertahalul, tidak kira sama ada ia berlaku pada hari Jumaat atau di
luar hari Jumaat, maka ia dinamakan sebagai haji akbar, tidak semestinya haji
akbar itu di hari Jumaat. Allahu ‘alam.
DICATAT
OLEH NAWAWI BIN SUBANDI DI ISNIN, DISEMBER 10, 2007
LABEL:
HAJI DAN UMRAH
Subscribe to:
Posts (Atom)
